MAKALAH IPS
MENGENAI PERISTIWA PERTEMPURAN MEDAN AREA
“ Kami membuat makalah ini dengan tujuan untuk memahami dan mempelajari sejarah terkait
pertempuran medan area ”
PENULIS
:
Andi Muh. Darul Ramadhany
Irtiyaah Imtiyaaz Zuhri
Muh.
Farid Imran
TAHUN PELAJARAN 2014/2015
AKSELERASI 5 MTsN WATAMPONE
KATA PENGANTAR
Assalamu
alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Puji syukur kami
panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah yang berjudul “MAKALAH IPS MENGENAI PERISTIWA
PERTEMPURAN MEDAN AREA “. Penulisan ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk
menyelesaikan tugas mata pelajaran IPS Terpadu. Dalam penulisan makalah ini
kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan
maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan
saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan
makalah ini.Akhirnya kami sebagai penulis berharap semoga Allah memberikan
pahala yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat
menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah,
Amiin Yaa Robbal Alamiin.
Watampone, 06 September 2015
Penulis,
Andi
Muh. Darul R Irtiyaah Imtiyaaz Z Muh. Farid I
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................... 2
DAFTAR ISI.................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................ 4
A. Latar
Belakang................................................................................................................... 4
B. Rumusan
Masalah.............................................................................................................. 4
C. Tujuan ............................................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN................................................................................................. 5
A.
Latar Belakang Pertempuran Medan
Area......................................................................... 5
B.
Pertempuran Medan Area ................................................................................................. 5
C.
Jalannya Pertempuran Medan Area.................................................................................... 6
D.
Peran Para Pemuda dalam Pertempuran
Medan Area........................................................ 10
E.
Ringkasan Kronologi.......................................................................................................... 11
F. Akibat Pertempuran Medan Area....................................................................................... 11
BAB III PENUTUP........................................................................................................... 13
Kesimpulan......................................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................ 14
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Tanggal 27 Agustus 1945 rakyat Medan baru mendengar berita proklamasi yang dibawa
oleh Mr. Teuku Mohammad
Hassan sebagai
Gubernur Sumatera. Menanggapi berita proklamasi para pemuda dibawah pimpinan Achmad Tahir membentuk barisan Pemuda Indonesia. Pendaratan Sekutu di
kota Medan terjadi pada tanggal 9 Oktober 1945 dibawah pimpinan T.E.D
Kelly.
Pendaratan tentara sekutu (Inggris) ini diikuti oleh pasukan sekutu dan NICA yang dipersiapkan untuk mengambil
alih pemerintahan. Kedatangan tentara sekutu dan NICA ternyata memancing
berbagai insiden.Sebuah insiden terjadi di hotel jalan bali, medan pada tanggal
13 oktober 1945, saat itu seorang penghuni expost )merampas dan menginjak injak
lencana merah putih yang dipakai pemuda indonesia hal ini mengundang kemarahan
pemuda indonesia. Pada tanggal 13 Oktober 1945 barisan pemuda dan TKR bertempur melawan Sekutu dan
NICA dalam upaya merebut dan mengambil alih gedung-gedung pemerintahan dari
tangan Jepang.
B.
Rumusan Masalah
1. Latar
Belakang Pertempuran Medan Area
3.
Jalannya Pertempuran Medan Area
4.
Peran Para Pemuda dalam Pertempuran Medan Area
5. Ringkasan
Kronologi
6.
Akibat Pertempuran Medan Area
C.
Tujuan
Untuk
mengetahui dan mempelajari sejarah tentang terjadinya pertempuran medan area
BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Pertempuran Medan
Area
Pada tanggal 9 november 1945, pasukan Sekutu dibawah
pimpinan Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly mendarat di Sumatera Utara yang dikuti
oleh pasukan NICA. Brigadir ini menyatakan kepada pemerintah RI akan
melaksanakan tugas kemanusiaan, mengevakuasi tawanan dari beberapa kamp di luar
Kota Medan. Dengah dalih menjaga keamanan, para bekas tawanan diaktifkan
kembali dan dipersenjatai.
Latar belakang pertempuran Medan Area, antara lain:
2.
Ulah seorang penghuni hotel yang
merampas dan menginjak-injak lencana merah
putih.
putih.
3.
Ultimatum agar pemuda Medan
menyerahkan senjata kepada Sekutu.
4.
Pemberian batas daerah Medan secara
sepihak oleh Sekutu dengan memasang papan pembatas yang bertuliskan “Fixed
Boundaries Medan Area (Batas Resmi Medan Area)” di sudut-sudut pinggiran Kota
Medan.
Pada tanggal 24 Agustus 1945, antara qpemerintah Kerajaan
Inggris dan Kerajaan Belanda tercapai suatu persetujuan yang terkenal dengan
nama civil Affairs Agreement. Dalam persetujuan ini disebutkan bahwa panglima
tentara pendudukan Inggris di Indonesia akan memegang kekuasaan atas nama
pemerintah Belanda.
Dalam melaksanakan hal-hal yang berkenaan dengan pemerintah
sipil, pelaksanaannya diselenggarakan oleh NICA dibawah tanggungjawab komando
Inggris. Kekuasaan itu kelak di kemudian hari akan dikembalikan kepada Belanda.
Inggris dan Belanda membangun rencana untuk memasuki berbagai kota strategis di
Indonesia yang baru saja merdeka. Salah satu kota yang akan didatangi Inggris
dengan “menyelundupkan” NICA Belanda adalah Medan.
Sementara di tempat lain pada tanggal 27 Agustus 1945 rakyat
Medan baru mendengar berita proklamasi yang dibawa oleh Mr. Teuku Moh Hassan
sebagai Gubernur Sumatera. Mengggapi berita proklamasi para pemuda dibawah
pimpinan Achmad lahir membentuk barisan Pemuda Indonesia.
Pada tanggal 9 Oktober 1945 rencana dalam Civil Affairs
Agreement benar-benar dilaksanakan. Tentara Inggris yang diboncengi oleh NICA
mendarat di Medan. Mereka dipimpin oleh Brigjen T.E.D Kelly.
Awalnya mereka diterima secara baik oleh pemerintah RI di
Sumatra Utara sehubungan dengan tugasnya untuk membebaskan tawanan perang
(tentara Belanda). Sebuah insiden terjadi di hotel Jalan Bali, Medan pada
tanggal 13 Oktober 1945.
Saat itu seorang penghuni hotel (pasukan NICA) merampas dan
menginjak-injak lencana Merah Putih yang dipakai pemuda Indonesia. Hal ini
mengundang kemarahan para pemuda. Akibatnya terjadi perusakan dan penyerangan
terhadap hotel yang banyak dihuni pasukan NICA. Pada tanggal 1 Desember 1945,
pihak Sekutu memasang papan-papan yang bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area
di berbagai sudut kota Medan.
Sejak saat itulah Medan Area menjadi terkenal. Pasukan
Inggris dan NICA mengadakan pembersihan terhadap unsur Republik yang berada di
kota Medan.
Hal ini jelas menimbulkan reaksi para pemuda dan TKR untuk
melawan kekuatan asing yang mencoba berkuasa kembali. Pada tanggal 10 Agustus
1946 di Tebingtinggi diadakan pertemuan antara komandan-komandan pasukan yang
berjuang di Medan Area. Pertemuan tersebut memutuskan dibentuknya satu komando
yang bernama Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area.
Pada tanggal 10 desember 1945, Sekutu dan NICA melancarkan
serangan besar-besaran terhadap kota Medan. Serangan ini menimbulkan banyak
koraban di kedua belah pihak. Pada bulan April 1946, Sekutu berhasil menduduki
kota Medan. Pusat perjuangan rakyat Medan kemudian dipindahkan ke
Pemantangsiantar.
Untuk
melanjutkan perjuangan di Medan maka pada bulan Agustus 1946 dibentuk Komando
Resimen Laskar Rakyat Medan Area. Komandan initerus mengadakan serangan
terhadap Sekutu diwilayah Medan. Hampir di seluruh wilayah Sumatera terjadi
perlawanan rakayat terhadap Jepang, Sekutu, dan Belanda. Pertempuran itu
terjadi, antara lian di Pandang, Bukit tinggi dan Aceh.
C. Jalannya
Pertempuran Medan Area
Pertempuran Medan Area dimulai dari bentrokan tanggal 13
Oktober 1945, baru empat hari setelah pasukan Inggris sampai di Medan, meledak
suatu konflik bersenjata antara para pemuda revolusioner dengan pasukan
NICA-Belanda. Peristiwa itu terjadi akibat adanya provokasi langsung seorang
serdadu Belanda yang bertindak merampas lencana merah putih (sudah disebutkan
di bagian sebelumnya) yang tersemat di peci seorang penggalas pisang yang
melintas di depan Asrama Pension Wilhelmina, Jalan Bali (sekarang Jalan Veteran).
Ratusan pemuda yang berada ditempat itu menyerang serdadu itu dengan senjata
pedang, pisau, bambu runcing, dan beberapa senjata api. Dalam peristiwa itu
timbul korban sebagai berikut : 1 orang opsir yaitu Letnan Goeneberg dan
7 orang serdadu NICA meninggal. Beberapa warga negara Swiss luka dan meninggal,
dan 96 orang serdadu NICA luka-luka termasuk seorang laki-laki sipil dan 3
orang wanita. Di pihak Indonesia gugur 1 orang (menurut prasasti yang
didirikan 7 orang) dan luka berat satu orang. Lokasi pertempuran saat ini
berada dekat dengan Pusat Pasar.
Peristiwa Jalan Bali itu segera tersiar ke seluruh pelosok
kota Medan, bahkan ke seluruh daerah Sumatera Utara dan menjadi sinyal
bagi kebanyakan pemuda, bahwa perjuangan menegakkan proklamasi telah dimulai.
Darah orang Belanda dan kaum kolonialis harus ditumpahkan demi Revolusi
Nasional. Akibatnya dengan cepat bergelora semangat anti Belanda di seluruh
Sumatera Timur. Diantara pemuda itu adalah Bedjo, salah seorang pemimpin laskar
rakyat di Pulo Brayan. Bedjo bersama pasukan selikurnya pada tanggal 16 Oktober
1945, tengah hari setelah sehari sebelumnya terjadi peristiwa Siantar
Hotel, menyerang gudang senjata Jepang di Pulo Brayan untuk memperkuat
persenjataan. Setelah melakukan serangan terhadap gudang perbekalan tentara
Jepang, Bedjo dan pasukannya kemudian menyerang Markas Tentara Belanda di
Glugur Hong dan Halvetia, Pulo Brayan. Dalam pertempuran yang berlangsung malam
hari, pasukan Bedjo yang menyerang Helvetia berhasil menewaskan 5 orang serdadu
KNIL. Serangan yang dilakukan oleh para pemuda di Jalan Bali dan Bedjo itu
telah menyentakkan pihak Sekutu (Inggris). Mereka mulai sadar bahwa para
pemuda-pemuda Republik telah memiliki persenjataan dan semangat kemerdekaan
yang pantas diperhitungkan.
Sementara itu, di simpang Jalan Deli dan Jalan Serdang yang
sekarang disebut Jalan Perintis Kemerdekaan, pecah bentrokan lain. Bentrokan
pecah di sebuah masjid di sana. Para pejuang yang dipimpin Wiji Alfisa dan Zain
Hamid bertempur dengan tentara Inggris pada 17 Oktober 1945. Mereka berhasil
bertahan dari gempuran Inggris hingga pada 20 Oktober 1945, Inggris memutuskan
untuk menghancurkan masjid tempat mereka bertahan. Setelah perang, masjid lain
dibangun diatasnya untuk mengenang perjuangan mereka. Masjid itu dinamai Masjid
Perjuangan 45.
Oleh karena itu sebagai tentara yang ditugaskan untuk
menjaga keamanan dan ketertiban, Komandan Inggris Brigadir Jenderal TED Kelly
pada tanggal 18 Oktober 1945 mengeluarkan sebuah ultimatum yang berbunyi sebagai
berikut, bahwa bangsa Indonesia dilarang keras membawa senjata, termasuk
senjata tajam, seperti pedang, tombak, keris, rencong dan sebagainya.
Senjata-senjata itu harus diserahkan kepada tentara Sekutu. Kepada para
komandan pasukan Jepang diperintahkan untuk tidak menyerahkan senjatanya kepada
TKR dan Laskar rakyat, dan harus menyerahkan semua daftar senjata api yang
dimilikinya kepada Sekutu. Pada tanggal 23 Oktober 1945, pasukan Inggris
kemudian melakukan penggerebekan di dalam kota Medan dan sekitarnya. Dalam penggerebekan
itu mereka berhasil mendapatkan 3 pistol, 1 senapan, 1 granat kosong, 2 ranjau
rakitan sendiri, 6 granat tangan, 3 senapan tiga kaki, 36 pedang, 10 pisau, 4
denator listrik, dan 6 tombak.
Sejak tentara Inggris melakukan razia di sekitar Medan,
kecurigaan masyarakat terhadap Inggris bertambah besar. Patroli tentara
Inggris sampai ke Sunggal, Pancur Batu, Deli Tua, Tanjung Morawa,
Saentis, bahkan ada serdadu-serdadu dan perwira Inggris yang berjalan-jalan
sendiri ke luar kota Medan dan Belawan. Di samping itu Komandan Inggris untuk
Sumatera, Mayor Jendral Chambers, menegaskan bahwa Pasukan Jepang diberikan
kekuasaan untuk mengamankan daerah-daerah di luar kota Medan, Bukit Tinggi, dan
Palembang. Kondisi itu akhirnya menimbulkan konflik bersenjata dengan para
pemuda Republik baik yang bergabung dengan TKR maupun dengan Laskar Rakyat.
Demikianlah pada tanggal 2 Desember 1945, dua orang serdadu
Inggris yang sedang mencuci trucknya di Sungai dekat Kampung Sungai Sengkol
telah diserang oleh TKR. Kedua serdadu Inggris itu tewas, dua buah senjata dan
trucknya dirampas. Dua hari kumudian, seorang perwira Inggris tewas
terbunuh di sekitar Saentis. Akibatnya pasukan Inggris terus melakukan
patroli di sekitar Medan, dan mereka mulai bertindak kasar. Pada tanggal 6
Desember 1945, tentara Inggris datang mengepung Gedung Bioskop Oranye di Kota
Medan. Mereka kemudian merampas semua filem di gedung tersebut. Tindakan
tentara Inggris itu menyebabkan para pemuda segera mengepung gedung bioskop
itu, sehingga timbullah pertempuran kecil, yang berakhir dengan tewasnya
seorang tentara Inggris.
Beberapa jam setelah peristiwa “Oranje Bioscop”, markas
Pesindo di Jalan Istana dan markas Pasukan Pengawal Pesindo di sekolah Derma
dirazia oleh tentara Inggris. Di sepanjang Jalan Mahkamah dan Jalan Raja,
tentara Inggris melakukan show of force. Tidak lama sesudah itu, markas
TKR di bekas restoran Termeulen diobrak-abrik dan penghuninya diusir oleh
tentara Inggris. Pada malam harinya para pemuda dan anggota TKR menyerang gedung
itu dengan granat botol, sehingga gedung itu terbakar. Pada tanggal 7, 8, dan 9
Desember 1945, siang dan malam hari di mana-mana asrama tentara
India-Inggris/NICA diserang oleh pemuda dan TKR. Akibat serangan itu tentara
Inggris/NICA pada tanggal 10 Desember 1945 menyerang markas TKR di Deli
Tua (Two Rivers). Tiga hari kemudian, Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly kembali
mengeluarkan Maklumat yang meminta agar Bangsa Indonesia harus menyerahkan
senjatanya kepada tentara Sekutu dan barang siapa memegang senjata di dalam
kota Medan dan 8,5 Km dari batas kota Medan dan Belawan akan ditembak mati.
Untuk menindaklanjuti intruksi itu pada bulan Maret 1946
pasukan Sekutu/Inggris kembali melakukan razia ke basis-basis laskar rakyat di
sekitar Tanjung Morawa. Barisan Pelopor dan Laskar Napindo yang berada berada
di daerah ini kemudian mencegat pasukan Inggris sehingga terjadi baku tembak.
Pertempuran kemudian berkobar selama dua hari dan akhirnya pasukan
Inggris menarik pasukannya dari Tanjung Morawa. Namun demikian pasukan sekutu
terus melakukan razia di dalam kota. Akibatnya pada pertengahan April 1946,
Markas Divisi IV berserta seluruh stafnya dan Kantor Gubernur Sumatera dan
semua jawatan-jawatannya pindah ke Pematang Siantar.
Sejak pindahnya Komando Militer dan Pemerintahan Republik ke
Pematang Siantar pasukan Inggris setiap hari melancarkan serangan ke kubu-kubu
TRI dan Laskar Rakyat di sekitar Medan Area. Pada akhir bulan Mei, selama satu
minggu mereka menggempur habis kampung-kampung di sekitar kota Medan. Akibat
serangan itu tentu saja membuat penduduk sipil mengungsi ke luar kota, seperti
ke Tanjung Morawa, Pancur Batu, Binjai, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan
sebagainya. Kampung-kampung seperti Sidodadi, Tempel, Sukaramai, Jalan Antara,
Jl. Japaris, Kota Maksum, Kampung Masdjid, Kampung Aur, Sukaraja, Sungai Mati,
Kampung Baru, Padang Bulan, Petisah Darat, Petisah Pajak Bundar, Kampung Sekip,
Glugur, dan sebagainya menjadi sepi. Meskipun demikian Inggris tidak leluasa
bergerak ke luar kota, karena laskar rakyat dan TRI siap menghadangnya.
Sampai akhir bulan Juli 1946 pasukan republik yang bertempur
di Medan Area bergerak tanpa komando. Karena itu pada bulan Agustus 1946
dibentuklah Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area (K.R.L.R.M.A.). Kapten Nip
Karim dan Marzuki Lubis dipilih sebagai Komandan dan Kepala Staf Umum. KRLMA
membawahi laskar Napindo, Pesindo, Barisan Merah, Hisbullah, dan Pemuda
Parkindo. Setiap pasukan disusun dalam formasi batalion yang terdiri dari empat
kompi. Medan Area dibagi dalam empat sektor dan tiap sektor terdiri atas
dua sub-sektor. Markas Komando ditempatkan di Two Rivers (Treves).
Dalam pada itu Belanda mulai mengarahkan kekuatan
militernya ke Sumatera dalam rangka mengamankan sumber ekonomi yang vital di
Sumatera Timur. Untuk itu, maka pada awal bulan Oktober 1946 satu
batalion pasukan bersenjata dari negeri Belanda mendarat di Medan. Beberapa
hari kemudian diikuti dengan satu batalion KNIL dari Jawa Barat. Gerakan
militer pasukan Belanda ini tidak bisa dilepaskan dengan adanya rencana Inggris
yang ingin secepatnya meninggalkan Indonesia. Semua instasi penting yang
ada di Medan Area segera diserahkan kepada Komandan Militer Belanda. Pasukan
Belanda kemudian mengambil alih semua tugas penyerangan terhadap pangkalan
militer Republik di sekitar Medan Area. Unit-unit militer Republik, baik TRI
maupun laskar rakyat segera bereaksi menanggapi pengambilalihan Belanda dan
mulai meningkatkan serangannya terhadap patroli-patroli Belanda maupun
Inggris. Hingga akhir tahun 1946, berbagai bentrokan fisik antara kekuatan
militer Republik dengan Belanda terus terjadi di segala front Medan Area.
Atas prakarsa pimpinan Divisi Gajah dan KRIRMA pada 10
Oktober 1941 disetujui untuk mengadakan serangan bersama. Sasaran yang akan
direbut di Medan Timur adalah Kampung Sukarame, Sungai Kerah. Di Medan barat
ialah Padang Bulan, Petisah, Jalan Pringgan, sedangkan di Medan selatan adalah
kota Matsum yang akan jadi sasarannya. Rencana gerakan ditentukan, pasukan akan
bergerak sepanjang jalan Medan-Belawan. Hari "H" ditentukan tanggal
27 Oktober 1946 pada jam 20.00 WIB, sasaran pertama Medan Timur dan Medan
Selatan. Tepat pada hari "H", batalyon A resimen laskar rakyat di
bawah Bahar bergerak menduduki Pasar Tiga bagian Kampung Sukarame, sedangkan batalyon
B menuju ke Kota Matsum dan menduduki Jalan Mahkamah dan Jalan Utama. Di Medan
Barat batalyon 2 resimen laskar rakyat dan pasukan Ilyas Malik bergerak
menduduki Jalan Pringgan, kuburan China dan Jalan Binjei.
Patut
diketahui, bahwa beberapa waktu yang lalu, pihak Inggris telah menyerahkan
sebagian kekuasaannya kepada Belanda. Pada saat sebagian pasukan Inggris
bersiap-siap untuk ditarik dan digantikan oleh pasukan Belanda, pasukan kita
menyerang mereka. Gerakan-gerakan batalyon-batalyon resimen Laskar Rakyat Medan
Area rupanya tercium oleh pihak Inggris/Belanda. Daerah Medan Selatan dihujani
dengan tembakan mortir. Pasukan kita membalas tembakan dan berhasil
menghentikannya.
D. Peran Para
Pemuda dalam Pertempuran Medan Area
Para pemuda memegang peran penting dalam banyak peristiwa
bersejarah negara ini. Sebut saja, Proklamasi Kemerdekaan, Pertempuran
Surabaya, hingga Reformasi. Di Pertempuran Medan Area ini juga, peran pemuda
sangat kentara dalam setiap pertempuran.
Di awal bagian jalan pertempuran sebelumnya, terdapat kisah
mengenai insiden Jalan Bali. Jika ditilik pada prasasti penanda yang didirikan,
nampak bahwa para pemuda lah yang melakukan penyerbuan ke markas NICA di Gedung
Pension Wilhelmina. Selain itu, berbagai laskar rakyat yang ada dibentuk oleh
pemuda seperti Pemuda Republik Indonesia Sumatera Timur (Pesindo). Ada juga
organisasi pemuda yang terafiliasi ke partai seperti Napindo (Nasional Pelopor
Indonesia) dari PNI, Barisan Merah dari PKI, Hisbullah dari Masyumi dan Pemuda
Parkindo dari Parkindo. Selain itu, banyak dari tokoh pejuang yang berusia
dibawah 30 tahun. Contohnya, Brigjend. Bedjo dan Jend. Ahmad Tahir, 2 tokoh
pejuang yang terlibat dalam Pertempuran Medan Area yang saat itu terjadi, umur
mereka masih dibawah 30 tahun.
Ketika pertempuran yang terjadi belum terorganisir dengan
baik pada tahun 1945 – 1946, para pemuda selalu yang berada di garis depan dan
bertempur dengan heroik melawan Belanda. Semangat para pemuda pulalah yang
sering membuat Sekutu – baik Inggris maupun Belanda – kerepotan.
Apa yang membuat pemuda pejuang saat itu begitu kuat dan
sulit dilawan penjajah ? Menurut saya, itu semua akibat jiwa nasionalisme dan
darah muda mereka. Jiwa nasionalisme mereka membuat semangat mereka menggelora
untuk membela negerinya, dan darah muda mereka menambah semangat tersebut dan
membuat mereka semakin nekat.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa peran pemuda dalam
Pertempuran Medan Area adalah :
1.
Ikut serta
dalam setiap pertempuran yang terjadi
2.
Pengobar
semangat rakyat untuk bertempur mempertahankan negaranya
3.
Ujung tombak
bagi setiap kekuatan pasukan Republik Indonesia
E.
Ringkasan
Kronologi
1.
Tokoh-tokohnya : Brigjen T.E.D. Kelly dan Achmad Tahir
2.
Sebab meletusnya : Tawanan perang yang dibebaskan sekutu dipersenjatai
& bersikap congkak sehingga menyebabkan terjadinya insiden di beberapa
tempat.
3.
Jalannya Peristiwa :
Pada tanggal 18 Okt 1945, Sekutu
mengultimatum rakyat Medan untuk menyerahkan senjatanya. NICA melakukan aksi
teror yg menyebabkan pecahnya pertempuran shg banyak korban di pihak Inggris. Tgl 1 Des 1945 Sekutu memasang
papan-papan yang bertuliskan Fixed
Boundaries Medan Area di berbagai sudut pinggiran kota Medan. Pada
bulan April 1946 pasukan Sekutu berhasil mendesak pemerintah RI keluar Medan.
Pasukan Inggris dan NICA mengadakan pembersihan terhadap unsur Republik yang
berada di kota Medan. Hal ini jelas menimbulkan reaksi para pemuda dan TKR
untuk melawan kekuatan asing yang mencoba berkuasa kembali.
4. Akhir Peristiwa :
Pada tgl 10 Agustus 1946 di Tebingtinggi diadakan
pertemuan antara komandan-koman dan pasukan yang berjuang di Medan Area.
Pertemuan tersebut memutuskan dibentuk nya satu komando yang bernama Komando
Resimen Laskar Rakyat Medan Area. Komando tersebut meneruskan perjuangan di
Medan Area.
F. Akibat
Pertempuran Medan Area
Pertempuran Medan Area berakhir pada 15
Februari 1947 pukul 24.00 setelah ada perintah dari Komite Teknik Gencatan
Senjata untuk menghentikan kontak senjata. Sesudah itu Panitia Teknik genjatan
senjata melakukan perundingan untuk menetapkan garis-garis demarkasi yang
definitif untuk Medan Area. Dalam perundingan yang berakhir pada tanggal
10 Maret 1947 itu, ditetapkanlah suatu garis demarkasi yang melingkari kota
Medan dan daerah koridor Medan Belawan. Panjang garis demarkasi yang dikuasai
oleh tentara Belanda dengan daerah yang dikuasai oleh tentara Republik
seluruhnya adalah 8,5 Km. Pada tanggal 14 Maret 1947 dimulailah pemasangan
patok-patok pada garis demarkasi itu. Akan tetapi kedua pihak, Indonesia dan
Belanda, selalu bertikai mengenai garis demarkasi ini. Empat bulan setelah
akhir pertempuran ini, Belanda melaksanakan Operatie Product atau disebut
Agresi Militer Belanda I.
Ada beberapa akibat dari Pertempuran
Medan Area ini, yaitu :
1.
Terbaginya
kawasan Medan oleh garis demarkasi
2.
Perpindahan
pusat pemerintahan Provinsi Sumatera ke Pematang Siantar
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Pertempuran Medan Area adalah sebuah peristiwa perlawanan rakyat terhadap Sekutu
yang terjadi di Medan, Sumatera Utara.
Tahun 1945 – 1949 adalah momen krusial
bagi perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya. Belanda,
yang dengan bantuan Inggris dapat kembali ke Indonesia, berusaha keras untuk
mendapatkan kembali ‘apa yang telah dirampas Jepang sebelumnya’ yaitu
Indonesia, walaupun saat itu Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya.
Disisi lain, Indonesia, sebuah negara yang baru saja memproklamasikan
kemerdekaannya (Indonesia adalah negara pertama yang memproklamasikan
kemerdekaan setelah Perang Dunia II), mati matian untuk mempertahankan
kemerdekaannya yang telah diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945.
Tak ayal, terjadi banyak pertempuran di
berbagai daerah. Dengan semangat, para pejuang bertarung sekuat tenaga untuk
mempertahankan setiap jengkal tanah Republik yang baru berdiri ini. Tak
terkecuali di Sumatera Utara, khususnya Kota Medan.
Di Sumatera Utara, perjuangan untuk
mempertahankan kemerdekaan, bisa dibilang, dilakukan di segala medan tempur.
Mulai dari perbukitan Berastagi, kilang minyak Pangkalan Berandan hingga
jalanan Kota Medan. Kali ini, kita khusus membahas tentang Pertempuran Medan
Area yang bertujuan untuk membebaskan Kota Medan dari Sekutu.
Sekalipun nama pertempurannya ‘Medan
Area’ yang diambil dari kata kata di papan yang dipasang di perbatasan kota
Medan “Fixed Boundaries Medan Area”, pertempuran ini berkobar hingga ke
luar Kota Medan. Pertempuran ini dimulai pada 13 Oktober 1945 setelah insiden
Jalan Bali, dan penyerbuan terakhir para pejuang dilaksanakan pada 15 Februari
1947. Pertempuran ini, menurut sekretaris Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Ilmu
Sosial (PUSSIS) Universitas Negeri Medan, Erond Damanik, tidak kalah heroik
dibandingkan pertempuran Surabaya karena para pejuang dalam pertempuran ini
plural dan jangka waktunya yang panjang.
DAFTAR PUSTAKA
http://semuanyaaa-ada.blogspot.com/2014/02/pertempuran-medan-area.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Medan_Area
pasukan Medan tidak menyerah melawan sekutu
BalasHapus