BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Makalah
Wali adalah sekelompok manusia pilihan
Allah SWT, yang di beri perintah untuk membawa umat ke jalan yang benar dan di
ridhoi oleh Allah. Wali yang terkenal dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa
berjumlah sembilan orang. Oleh karena itu, saya membuat makalah, agar mendapat
gambaran tentang Waliyullah di Madura, baik silsilahnya, cara menyebarkan agama
dan ajarannya, letaknya, namanya, kisah dan usaha dalam menyebarkan ajaran
Islam di tanah Jawa dan pulau Madura pada khususnya, Indonesia (Nusantara) pada
umumnya.
Selain itu, yang melatar
belakangi makalah ini adalah karena di wajibkan setiap orang untuk membuat makalah, sehingga dengan penuh
tanggung jawab kami semua melaksanakannya.
Dari
hasil makalah ini, diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada pembaca
tentang Wali Songo yang ada di tanah Jawa dan Waliyulloh yang ada di Madura.
1.2
Tujuan Makalah
Tujuan Makalah merupakan arah yang menentukan suatu aktivitas agar berhasil,
oleh karena itu harus menentukan tujuan sesuai dengan karakteristik
permasalahan.
Adapun tujuan
dibuatnya makalah adalah :
- Untuk
mengetahui lebih dalam tentang para Wali Allah
- Untuk
menambah wawasan ke-islaman
- Untuk
meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Penyebaran Islam Di Tanah Jawa Oleh Wali Songo
Walisongoatau Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting
pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur,
Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia,
khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan
mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya
terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung,
membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
2.2 Deskripsi Wali Songo
1. Sunan Gresik (Syekh
Maulana Malik Ibrahim)
Syekh Maulana Malik Ibrahim berasal dari Turki, dia
adalah seorang ahli tata negara yang ulung. Syekh Maulana Malik Ibrahim datang
ke pulau Jawa pada tahun 1404 M. Jauh sebelum beliau datang, islam sudah ada
walaupun sedikit, ini dibuktikan dengan adanya makam Fatimah binti Maimun yang
nisannya bertuliskan tahun 1082.
Dikalangan rakyat jelata Sunan Gresik atau sering
dipanggil Kakek Bantal sangat terkenal terutama di kalangan kasta rendah yang
selalu ditindas oleh kasta yang lebih tinggi. Sunan Gresik menjelaskan bahwa
dalam Islam kedudukan semua orang adalah sama sederajat hanya orang yang
beriman dan bertaqwa tinggi kedudukannya di sisi Allah. Dia mendirikan
pesantren yang merupakan perguruan islam, tempat mendidik dan menggenbleng para
santri sebagai calon mubaligh.
Di Gresik, beliau juga memberikan pengarahan agar tingkat
kehidupan rakyat gresik semakin meningkat. Beliau memiliki gagasan mengalirkan
air dari gunung untuk mengairi sawah dan ladang.Syekh Maulana Malik Ibrahim
seorang walisongo yang dianggap sebagai ayah dari walisongo. Beliau wafat di
gresik pada tahun 882 H atau 1419 M.
2. Sunan Ampel (Raden
Rahmat)
Raden Rahmat adalah putra Syekh Maulana Malik Ibrahim dari istrinya bernama Dewi Candrawulan. Beliau memulai
aktivitasnya dengan mendirikan pesantren di Ampel Denta, dekat dengan Surabaya.
Di antara pemuda yang dididik itu tercatat antara lain Raden Paku (Sunan Giri),
Raden Fatah (Sultan pertama Kesultanan Islam Bintoro, Demak), Raden Makdum
Ibrahim (putra Sunan Ampel sendiri dan dikenal sebagai Sunan Bonang),
Syarifuddin (Sunan Drajat), dan Maulana Ishak.
Menurut Babad
Diponegoro, Sunan Ampel sangat berpengaruh di kalangan istana Manjapahit,
bahkan istrinya pun berasal dari kalangan istana Raden Fatah, putra Prabu
Brawijaya, Raja Majapahit, menjadi murid Ampel. Sunan Ampel tercatat sebagai
perancang Kerajaan Islam di pulau Jawa. Dialah yang mengangkat Raden Fatah
sebagai sultan pertama Demak. Disamping itu, Sunan Ampel juga ikut mendirikan
Masjid Agung Demak pada tahun 1479 bersama wali-wali lain.
Pada awal islamisasi Pulau Jawa, Sunan Ampel menginginkan
agar masyarakat menganut keyakinan yang murni. Ia tidak setuju bahwa kebiasaan
masyarakat seperti kenduri, selamatan, sesaji dan sebagainya tetap hidup dalam
sistem sosio-kultural masyarakat yang telah memeluk agama Islam. Namun
wali-wali yang lain berpendapat bahwa untuk sementara semua kebiasaan tersebut
harus dibiarkan karena masyarakat sulit meninggalkannya secara serentak.
Akhirnya, Sunan Ampel menghargainya. Hal tersebut terlihat dari persetujuannya ketika Sunan Kalijaga
dalam usahanya menarik penganut Hindu dan Budha, mengusulkan agar adat istiadat
Jawa itulah yang diberi warna Islam.Dan beliau wafat pada tahun 1478 dimakamkan
disebelah masjid Ampel.
3. Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim)
Nama aslinya adalah Raden Makdum Ibrahim. Beliau Putra
Sunan Ampel. Sunan Bonang terkenal sebagai ahli ilmu kalam dan tauhid. Beliau
dianggap sebagai pencipta gending pertama dalam rangka mengembangkan ajaran
Islam di pesisir utara Jawa Timur. Setelah belajar di Psai, Aceh, Sunan Bonang
kembali ke Tuban, Jawa Timur, untuk mendirikan pondok pesantren. Santri-santri
yang menjadi muridnya berdatangan dari berbagai daerah.
Sunan Bonang dan para wali lainnya dalam menyebarkan
agama Islam selalu menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa
yang sangat menggemari wayang serta musik gamelan. Mereka memanfaatkan
pertunjukan tradisional itu sebagai media dakwah Islam, dengan menyisipkan
napas Islam ke dalamnya. Syair lagu gamelan ciptaan para wali tersebut berisi
pesan tauhid, sikap menyembah Allah SWT. dan tidak menyekutukannya. Setiap bait
lagu diselingi dengan syahadatain (ucapan dua kalimat syahadat); gamelan yang
mengirinya kini dikenal dengan istilah sekaten, yang berasal dari syahadatain.
Sunan Bonang sendiri menciptakan lagu yang dikenal dengan tembang Durma,
sejenis macapat yang melukiskan suasana tegang, bengis, dan penuh amarah. Sunan
Bonang wafat di pulau Bawean pada tahun 1525 M.
4.
Sunan Giri
Sunan Giri merupakan putra dari Maulana
Ishak dan ibunya bernama Dewi Sekardadu putra Menak Samboja. Kebesaran Sunan
Giri terlihat antara lain sebagai anggota dewan Walisongo. Nama Sunana Giri
tidak bisa dilepaskan dari proses pendirian kerajaan Islam pertama di Jawa,
Demak. Ia adalah wali yang secara aktif ikut merencanakan berdirinya negara itu
serta terlibat dalam penyerangan ke
Majapahit sebagai penasihat militer.
Sunan Giri atau Raden Paku dikenal
sangat dermawan, yaitu dengan membagikan barang dagangan kepada rakyat Banjar
yang sedang dilanda musibah. Beliau pernah bertafakkur di goa sunyi selama 40
hari 40 malam untuk bermunajat kepada Allah. Usai bertafakkur ia teringat pada
pesan ayahnya sewaktu belajar di Pasai untuk mencari daerah yang tanahnya mirip
dengan yang dibawahi dari negeri Pasai melalui desa Margonoto sampailah Raden
Paku di daerah perbatasan yang hawanya sejuk, lalu dia mendirikan pondok
pesantren yang dinamakan Pesantren Giri. Tidak berselang lama hanya daam waktu
tiga tahun pesantren tersebut terkenaldi seluruh Nusantara.Sunan Giri sangat
berjasa dalam penyebaran Islam baik di Jawa atau nusantara baik dilakukannya
sendiri waktu muda melalui berdagang tau bersama muridnya. Beliau juga
menciptakan tembang-tembang dolanan anak kecil yang bernafas Islami, seperti
jemuran, cublak suweng dan lain-lain.
5.
Sunan Drajat
Nama aslinya adalah Raden Syarifudin.
Ada suber yang lain yang mengatakan namanya adalah Raden Qasim, putra Sunan
Ampel dengan seorang ibu bernama Dewi Candrawati. Jadi Raden Qasim itu adalah
saudaranya Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang). Oleh ayahnya yaitu Sunan Ampel,
Raden Qasim diberi tugas untuk berdakwah di daerah sebalah barat Gresik, yaitu
daerah antara Gresik dengan Tuban.
Di desa Jalang itulah Raden Qasim
mendirikan pesantren. Dalam waktu yang singkat telah banyak orang-orang yang
berguru kepada beliau. Setahun kemudian di desa Jalag, Raden Qasim mendapat
ilham agar pindah ke daerah sebalah selatan kira-kira sejauh satu kilometer
dari desa Jelag itu. Di sana beliau mendirikan Mushalla atau Surau yang sekaligus
dimanfaatkan untuk tempat berdakwah. Tiga tahun tinggal di daerah itu, beliau
mendaat ilham lagi agar pindah tempat ke satu bukit. Dan di tempat baru itu
belaiu berdakwah dengan menggunakan kesenian rakyat, yaitu dengan menabuh
seperangkat gamelanuntuk mengumpulkan orang, setelah itu lalu diberi ceramah
agama. Demikianlah kecerdikan Raden Qasim dalam mengadakan pendekatan kepada
rakyat dengan menggunakan kesenian rakyat sebagai media dakwahnya. Sampai
sekarang seperangkat gamelan itu masih tersimpan dengan baik di museum di dekat
makamnya.
6.
Sunan Kalijaga
Nama aslinya adalah Raden Sahid, beliau
putra Raden Sahur putra Temanggung Wilatika Adipati Tuban. Raden Sahid
sebenarnya anak muda yang patuh dan kuat kepada agama dan orang tua, tapi tidak
bisa menerima keadaan sekelilingnya yang terjadi banyak ketimpangan, hingga dia
mencari makanan dari gudang kadipaten dan dibagikan kpeada rakyatnya. Tapi
ketahuan ayahnya, hingga dihukum yaitu tangannya dicampuk 100 kali sampai
banyak darahnya dan diusir.
Setelah diusir selain mengembara, ia
bertemu orang berjubah putih, dia adalah Sunan Bonang. Lalau Raden Sahid
diangkat menjadi murid, lalu disuruh menunggui tongkatnya di depan kali sampai
berbulan-bulan sampai seluruh tubuhnya berlumut. Maka Raden Sahid disebut Sunan
Kalijaga.
Sunan kalijaga menggunakan kesenian
dalam rangka penyebaran Islam, antara lain dengan wayang, sastra dan berbagai
kesenian lainnya. Pendekatan jalur kesenian dilakukan oleh para penyebar Islam
seperti Walisongo untuk menarik perhatian di kalangan mereka, sehingga dengan
tanpa terasa mereka telah tertarik pada ajaran-ajaran Islam sekalipun, karena
pada awalnya mereka tertarik dikarenakan media kesenian itu. Misalnya, Sunan
Kalijaga adalah tokoh seniman wayang. Ia itdak pernah meminta para penonton
untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian wayang masih dipetik
dari cerita Mahabarata dan Ramayana, tetapi di dalam cerita itu disispkan
ajaran agama dan nama-nama pahlawan Islam.
7.
Sunan
Kudus (Ja’far Sadiq)
Sunan
Kudus menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya. Beliau memiliki
keahlian khusus dalam bidang agama, terutama dalam ilmu fikih, tauhid, hadits,
tafsir serta logika. Karena itulah di antara walisongo hanya ia yang mendapat
julukan wali al-‘ilm (wali yang luas ilmunya), dank arena keluasan
ilmunya ia didatangi oleh banyak penuntut ilmu dari berbagai daerah di
Nusantara.
Ada
cerita yang mengatakan bahwa Sunan Kudus pernah belajar di Baitul Maqdis,
Palestina, dan pernah berjasa memberantas penyakit yang menelan banyak korban
di Palestina. Atas jasanya itu, oleh pemerintah Palestiana ia diberi ijazah
wilayah (daerah kekuasaan) di Palestina, namun Sunan Kudus mengharapkan hadiah
tersebut dipindahkan ke Pulau Jawa, dan oleh Amir (penguasa setempat)
permintaan itu dikabulkan. Sekembalinya ke Jawa ia mendirikan masjid di daerah
Loran tahun 1549, masjid itu diberi nama Masjid Al-Aqsa atau Al-Manar (Masjid
Menara Kudus) dan daerah sekitanya diganti dengan nama Kudus, diambil dari nama
sebuah kota di Palestina, al-Quds. Dalam melaksanakan dakwah dengan pendekatan
kultural, Sunan Kudus menciptakan berbagai cerita keagamaan. Yang paling
terkenal adalah Gending Makumambang dan Mijil.
Cara-cara berdakwah Sunan Kudus adalah sebagai berikut:
a. Strategi pendekatan
kepada masa dengan jalan
1.
Membiarkan adat istiadat
lama yang sulit diubah
2. Menghindarkan konfrontasi
dalam menyiarkan agama islam
3.
Tut Wuri Handayani
4. Bagian adat istiadat yang
tidak sesuai dengan mudah diubah langsung diubah.
b. Merangkul masyarakat Hindu seperti larangan menyembelih
sapi karena dalam agama Hindu sapi adalah binatang suci dan keramat.
c. Merangkul masyarakat
Budha
Setelah masjid, terus Sunan Kudus mendirikan padasan
tempat wudlu denga pancuran yang berjumlah delapan, diatas pancuran diberi arca
kepala Kebo Gumarang diatasnya hal ini disesuaikan dengan ajaran Budha “ Jalan
berlipat delapan atau asta sunghika marga”.
d. Selamatan Mitoni
Biasanya sebelum acara selamatan diadakan membacakan
sejarah Nabi.
Sunan Kudus wafat pada tahun 1550 M dan dimakamkan di
Kudus. Di pintu makan Kanjeng Sunan Kudus terukir kalimat asmaul husna
yang berangka tahun 1296 H atau 1878 M.
8.
Sunan Muria (Raden Umar Said)
Salah
seorang Walisongo yang banyak berjasa dalam menyiarkan agama Islam di pedesaab
Pulau Jawa adalah Sunan Muria. Beliau lebih terkenal dengan nama Sunan Muria
karena pusat kegiatan dakwahnya dan makamnya terletak di Gunung Muria (18 km di
sebelah utara Kota Kudus sekarang).
Beliau adalah putra dari Sunan Kalijaga dengan Dewi
Saroh. Nama aslinya Raden Umar Said, dalam berdakwah ia seperti ayahnya yaitu
menggunakan cara halus, ibarat menganbil ikan tidak sampai keruh airnya. Muria
dalam menyebarkan agama Islam. Sasaran dakwah beliau adalah para pedagang,
nelayan dan rakyat jelata. Beliau adalah satu-satunya wali yang mempertahankan
kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah dan beliau pulalah yang
menciptakan tembang Sinom dan kinanthi. Beliau banyak mengisi tradisi Jawa
dengan nuansa Islami seperti nelung dino, mitung dino, ngatus dino dan
sebagainya.
Lewat tembang-tembang yang diciptakannya, sunan Muria
mengajak umatnya untuk mengamalkan ajaran Islam. Karena itulan sunan Muria
lebih senang berdakwah pada rakyat jelata daripada kaum bangsawan. Cara dakwah
inilah yang menyebabkan suna Muria dikenal sebagai sunan yang suka berdakwak tapa
ngeli yaitu menghanyutkan diri dalam masyarakat.
9.
Sunan Gunung Jati (Syarif
Hidayatullah)
Nama
aslinya Syarif Hidayatullah. Dialah pendiri dinasti Raja-raja Cirebon dan
kemudian juga Banten. Sunan Gunung Jati adalah cucu Raja Pajajaran, Prabu
Siliwangi.
Ia dinikahkan dengan putri Cakra Buana Nyi Pakung Wati
kemudian ia diangkat menjadi pangeran Cakra Buana yaitu pada tahun 1479 dengan
diangkatnya ia sebagai pangeran dakwah islam dilakukannya melalui diplomasi
dengan kerajaan lain.
Setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah Kerajaan
Islam yang bebas dari kekuasaan Pajajaran, Sunan Gunung Jati berusaha
mempengaruhi kerajaan yang belum menganut agama Islam. Dari Cirebon, ia mengembangkan agama Islam ke
daerah-daerah lain di Jawa Barat, seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh),
Sunda Kelapa, dan Banten.
2.1.2
Sunan Kalijaga
Sunan
Kalijaga adalah
seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di Pulau Jawa, karena
kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam
tradisi Jawa. Makamnya berada di Kadilangu, Demak.
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun.
Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal
kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut
pula merancang pembangunan Masjid Agung
Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan
kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan
Kalijaga.
Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama
Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang
bernama Tumenggung Wilwatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara
lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden
Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama
Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga
berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.
Mengenai asal usul beliau, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa
beliau juga masih keturunan Arab. Tapi, banyak pula yang menyatakan ia orang Jawa asli. Van
Den Berg menyatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab yang
silsilahnya sampai kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Sementara itu menurut BabadTuban menyatakan
bahwa Aria Teja alias 'Abdul Rahman berhasil
mengislamkan Adipati Tuban, Aria Dikara, dan mengawini putrinya. Dari
perkawinan ini ia memiliki putra bernama Aria Wilatikta. Menurut catatan Tome
Pires, penguasa Tuban pada tahun 1500 M adalah cucu dari peguasa Islam pertama
di Tuban. Sunan Kalijaga
atau Raden Mas Said adalah putra Aria Wilatikta. Sejarawan lain seperti De
Graaf membenarkan bahwa Aria Teja I ('Abdul Rahman) memiliki silsilah dengan Ibnu Abbas, paman Muhammad. Sunan
Kalijaga mempunyai tiga anak salah satunya adalah Umar Said atau Sunan Muria.
Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh
binti Maulana Ishak, dan mempunyai 3 putra: R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah.
Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat
dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf"
-bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan
kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan
menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap:
mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah
dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Tidak mengherankan, ajaran
Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni
ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa
lagu suluk ciptaannya
yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Dialah
menggagas baju takwa, perayaan sekatenan, garebeg
maulud, serta lakon caranganLayang Kalimasada dan Petruk
Dadi Ratu ("Petruk Jadi Raja"). Lanskap pusat kota berupa kraton,
alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan
Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa
memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga; di antaranya adalah adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang.Ketika wafat,
beliau dimakamkan di Desa Kadilangu, dekat kota Demak (Bintara). Makam ini
hingga sekarang masih ramai diziarahi orang.
2.1.3 Sunan Kudus
Sunan Kudus dilahirkan dengan nama Jaffar Shadiq.
Dia adalah putra dari pasangan Sunan Ngudung, adalah panglima perang Kesultanan
Demak Bintoro dan Syarifah adik dari Sunan Bonang. Sunan Kudus diperkirakan
wafat pada tahun 1550.
Sunan Kudus pernah menjabat sebagai panglima perang untuk
Kesultanan Demak, dan dalam masa pemerintahan Sunan Prawoto dia menjadi
penasihat bagi Arya Penangsang. Selain sebagai panglima perang untuk Kesultanan
Demak, Sunan Kudus juga menjabat sebagai hakim pengadilan bagi Kesultanan
Demak.Adapun cara-cara berdakwah Sunan Kudus yaitu:
1.
Strategi Pendekatan Kepada Massa
Sunan Kudus termasuk pendukung gagasan Sunan Kali Jaga
dan Sunan Bonangyang menerapkan strategi seperti ini.
·
Membiarkan
dulu adapt istiadat dan kepercayaan lama yang sukar diubah
·
Tut Wuri
Handayani artinya mengikuti dari belakang terhadap kelakuan dan adat
·
Menghindarkan
konfrontasi secara langsung atau secara keras didalam menyiarkan agama Islam
·
Pada akhirnya
boleh saja merubah adapt dengan prinsip tidak menghalau masyarakat dari umat
Islam
2.
Merangkul Masyarakat Hindu
Dalam melakukan dakwah penyebaran
Islam di Kudus, Sunan Kudus menggunakan sapi sebagai sarana penarik masyarakat
untuk datang untuk mendengarkan dakwahnya. Sunan Kudus juga membangun Menara
Kudus yang merupakan gabungan kebudayaan Islam dan Hindu yang juga terdapat
Masjid yang disebut Masjid Menara Kudus.
Pada tahun 1530, Sunan Kudus
mendirikan sebuah mesjid di desa Kerjasan, Kudus Kulon, yang kini terkenal
dengan nama Masjid Agung Kudus dan masih bertahan hingga sekarang. Sekarang
Masjid Agung Kudus berada di alun-alun kota Kudus Jawa Tengah.Peninggalan lain
dari Sunan Kudus adalah permintaannya kepada masyarakat untuk tidak memotong
hewan kurban sapi dalam perayaan Idul Adha untuk menghormati masyarakat
penganut agama Hindu dengan mengganti kurban sapi dengan memotong kurban
kerbau, pesan untuk memotong kurban kerbau ini masih banyak ditaati oleh
masyarakat Kudus hingga saat ini. Bentuk Masjid yang dibuat Sunan Kudus pun
juga tak jauh bedanya dengan candi-candi milik orang Hindu.
3.
Merangkul Masyarakat Budha
Sesudah Mesjid berdiri, Sunan Kudus
membuat padasan atau tempat berwudlu dengan pancuran yang berjumlah tujuh. Hal
ini disesuaikan dengan ajaran Budha “Jalan Berlipat Tujuh” atau “Asta Sanghika
Marga” yaitu:
·
Harus
memiliki pengetahuan yan benar
·
Harus
memiliki keputusan yang benar
·
Berkata yang
benar
·
Hidup dengan
cara yang benar
·
Bekerja
dengan benar
·
Beribadah
dehgan benar
·
Dan menghayati
agama-agama dengan benar
Usahanya itu pun berhasil, banyak umat Budha yang
penasaran, untuk apa Sunan Kudus memasang lambing wasiat Budha itu di Pedasan
atau tempat berwudlu. Sehingga mereka berdatangan ke Masjid untuk mendengarkan keterangan dari
Sunan Kudus.
2.1.4Sunan Muria
Sunan Muria dilahirkan dengan nama Raden Umar
Said atau Raden Said. Menurut beberapa riwayat, dia adalah putra
dari Sunan Kalijaga yang menikah dengan Dewi Soejinah, putri Sunan Ngudung. Nama Sunan Muria sendiri diperkirakan berasal dari nama gunung (Gunung Muria), yang terletak di sebelah utara kota Kudus, Jawa Tengah, tempat dia dimakamkan.
Sunan Muria adalah guru yang sakti mandraguna dapat
ditemukan dalam kisah perkawinan Sunan Muria dengan Dewi Roroyono. Dewi
Roroyono adalah putri Sunan Ngerang, yaitu seorang ulama yang disegani
masyarakat karena ketinggian ilmunya, tempat tinggalnyadi Juana.
Demikian saktinya Sunan Ngerang ini sehingga Suna Muria
dan Sunan Kudus sampai-sampaiberguru pada beliau. Suatu hari Sunan Muria
bertemu dengan Kapa di Gunung Muria kemudian mereka berkelahi adu kekuatan. Di
dalam perkelahian itu Kapa mengeluarkan seluruh ilmu kekuatannya, disitu Kapa
mengeluarkan aji kesaktiannya. Kemudian Sunan Muria mengembalikan kekuatan dari
Kapa dan menghantam Kapa. Itulah kesaktian yang dimiliki Sunan Muria. Pada
akhirnya Dewi Roroyono dan Sunan Muria kembali ke Padepokan dan hidup bahagia.
2.1.5Sunan Bonang
Sunan Bonang dilahirkan
pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupatenRembang.
Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat
ini makam aslinya berada di Desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi adalah
makamnya di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat
beliau meninggal, kabar wafatnya beliau sampai pada seorang muridnya yang
berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi beliau sampai ingin membawa
jenazah beliau ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya
dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian beliau. Saat melewati Tuban, ada
seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari
Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang. Mereka memperebutkannya.Dalam Serat
Darmo Gandhul, Sunan Bonang disebut Sayyid Kramat merupakan seorang Arab
keturunan Nabi Muhammad.
2.1.5..1
Silsilah
Terdapat silsilah yang
menghubungkan Sunan Bonang dan Nabi Muhammad:
Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) bin
Sunan Ampel (Raden Rahmat) Sayyid Ahmad Rahmatillah bin
Maulana Malik Ibrahim bin
Syekh Jumadil Qubro (Jamaluddin Akbar Khan) bin
Ahmad Jalaludin Khan bin
Abdullah Khan bin
Abdul Malik Al-Muhajir (dari Nasrabad,India) bin
Alawi Ammil Faqih (dari Hadramaut) bin
Muhammad Sohib Mirbath (dari Hadramaut) bin
Ali Kholi' Qosam bin
Alawi Ats-Tsani bin
Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
Alawi Awwal bin
Ubaidullah bin
Ahmad al-Muhajir bin
Isa Ar-Rumi bin
Muhammad An-Naqib bin
Ali Uradhi bin
Ja'afar As-Sodiq bin
Muhammad Al Baqir bin
Ali Zainal 'Abidin bin
Hussain bin
Ali bin Abi Thalib (dari Fatimah az-Zahra binti Muhammad).
Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) bin
Sunan Ampel (Raden Rahmat) Sayyid Ahmad Rahmatillah bin
Maulana Malik Ibrahim bin
Syekh Jumadil Qubro (Jamaluddin Akbar Khan) bin
Ahmad Jalaludin Khan bin
Abdullah Khan bin
Abdul Malik Al-Muhajir (dari Nasrabad,India) bin
Alawi Ammil Faqih (dari Hadramaut) bin
Muhammad Sohib Mirbath (dari Hadramaut) bin
Ali Kholi' Qosam bin
Alawi Ats-Tsani bin
Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
Alawi Awwal bin
Ubaidullah bin
Ahmad al-Muhajir bin
Isa Ar-Rumi bin
Muhammad An-Naqib bin
Ali Uradhi bin
Ja'afar As-Sodiq bin
Muhammad Al Baqir bin
Ali Zainal 'Abidin bin
Hussain bin
Ali bin Abi Thalib (dari Fatimah az-Zahra binti Muhammad).
2.1.5.2
Karya Sastra
Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau
tembang tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya
Abu Sa'id Al Khayr. Sunan Bonang juga menggubah tembang Tamba Ati (dari bahasa Jawa, berarti penyembuh jiwa) yang kini masih
sering dinyanyikan orang.
Apa pula sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa yang dahulu diperkirakan merupakan karya Sunan Bonang
dan oleh ilmuwan Belanda seperti Schrieke disebut Het Boek van Bonang atau buku
(Sunan) Bonang. Tetapi oleh G.W.J. Drewes, seorang
pakar Belanda lainnya, dianggap bukan karya Sunan Bonang, melainkan dianggapkan
sebagai karyanya.
2.1.5.3
Keilmuan
Sunan Bonang juga terkenal dalam hal ilmu kebathinannya. Ia mengembangkan
ilmu (dzikir) yang berasal dari Rasullah SAW, kemudian beliau kombinasi dengan
kesimbangan pernafasanyang disebut dengan rahasia Alif Lam Mim ( ا ل م)
yang artinya hanya Allah SWT yang tahu. Sunan Bonang juga menciptakan
gerakan-gerakan fisik atau jurus yang Beliau ambil dari seni bentuk huruf
Hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf dimulai dari huruf Alif dan diakhiri huruf
Ya'. Ia menciptakan Gerakan fisik dari nama dan simbol huruf hijayyah adalah
dengan tujuan yang sangat mendalam dan penuh dengan makna, secara awam penulis
artikan yaitu mengajak murid-muridnya untuk menghafal huruf-huruf hijaiyyah dan
nantinya setelah mencapai tingkatnya diharuskan bisa baca dan memahami isi
Al-Qur'an. Penekanan keilmuan yang diciptakan Sunan Bonang adalah mengajak
murid-muridnya untuk melakukan Sujud atau Salat dan dzikir. Hingga sekarang
ilmu yang diciptakan oleh Sunan Bonang masih dilestarikan di Indonesia oleh
generasinya dan diorganisasikan dengan nama Padepokan Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid Indonesia.
2.1.6 Sunan Drajat
Sunan Drajat diperkirakan lahir pada tahun 1470 masehi. Nama
kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia
adalah putra dari Sunan Ampel, dan bersaudara dengan Sunan Bonang.Ketika dewasa, Sunan Drajat mendirikan pesantren Dalem Duwur di desa
Drajat, PaciranKabupaten Lamongan.
Sunan Drajat yang mempunyai nama
kecil Syarifudin atau raden Qosim putra Sunan Ampel dan terkenal dengan kecerdasannya. Setelah menguasai
pelajaran islam beliau menyebarkan agama islam di desa Drajad sebagai tanah perdikan di
kecamatan Paciran. Tempat ini diberikan oleh kerajaan Demak. Ia diberi gelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah pada tahun saka 1442/1520 masehi
Makam Sunan Drajat dapat ditempuh
dari surabaya maupun Tuban lewat Jalan Daendels (Anyer - Panarukan), namun
bila lewat Lamongan dapat ditempuh 30menit dengan
kendaran pribadi.
2.1.6.1 Sejarah singkat
Sunan Drajat bernama kecil Raden
Syarifuddin atau Raden Qosim putra Sunan Ampel yang terkenal cerdas. Setelah
pelajaran Islam dikuasai, beliau mengambil tempat di Desa Drajat wilayah
Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan sebagai pusat kegiatan dakwahnya sekitar
abad XV dan XVI Masehi. Ia memegang kendali keprajaan di wilayah perdikan Drajat sebagai
otonom kerajaan Demak selama 36tahun.
Beliau sebagai Wali penyebar
Islam yang terkenal berjiwa sosial, sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin.
Ia terlebih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial baru memberikan pemahaman
tentang ajaran Islam. Motivasi lebih ditekankan pada etos kerja keras, kedermawanan untuk
mengentas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran. Usaha ke arah itu menjadi
lebih mudah karena Sunan Drajat memperoleh kewenangan untuk mengatur wilayahnya
yang mempunyai otonomi.
Sebagai penghargaan atas keberhasilannya menyebarkan
agama Islam dan usahanya menanggulangi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan
yang makmur bagi warganya, beliau memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden PatahSultanDemak pada tahun
saka 1442 atau 1520Masehi.
2.1.6.2 Filosofi Sunan Drajat
Filosofi Sunan Drajat dalam
pengentasan kemiskinan kini terabadikan dalam sap tangga ke tujuh dari tataran
komplek Makam Sunan Drajat. Secara lengkap makna filosofis ke tujuh sap tangga
tersebut sebagai berikut :
- Memangun resep teyasing Sasomo (kita selalu membuat senang hati orang lain)
- Jroning suko kudu eling Ian
waspodo (di dalam suasana riang kita
harus tetap ingat dan waspada)
- Laksitaning subroto tan nyipto
marang pringgo bayaning lampah
(dalam perjalanan untuk mencapai cita - cita luhur kita tidak peduli
dengan segala bentuk rintangan)
- Meper Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu)
- Heneng - Hening - Henung (dalam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan
dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita - cita luhur).
- Mulyo guno Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai
dengan salat lima waktu)
- Menehono teken marang wong kang
wuto, Menehono mangan marang wong kang luwe, Menehono busono marang wong
kang wudo, Menehono ngiyup marang wongkang kodanan (Berilah ilmu agar
orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin,
Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri
perlindungan orang yang menderita)[sunting]
Penghargaan
Dalam sejarahnya Sunan Drajat juga
dikenal sebagai seorang Wali pencipta tembang Mocopat yakni Pangkur. Sisa -
sisa gamelan Singomengkoknya Sunan Drajat kini tersimpan di Musium Daerah.
Untuk menghormati jasa - jasa Sunan
Drajat sebagai seorang Wali penyebar agama Islam di wilayah Lamongan dan untuk
melestarikan budaya serta benda-benda bersejarah peninggalannya Sunan Drajat,
keluarga dan para sahabatnya yang berjasa pada penyiaran agama Islam,
Pemerintah Kabupaten Lamongan mendirikan Musium Daerah Sunan
Drajat disebelah timur Makam. Musium ini telah diresmikan oleh GubernurJawa Timur tanggal 1 Maret1992.
2.1.7 Sunan Giri
Sunan Giri adalah nama
salah seorang Walisongo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Ia lahir di Blambangan tahun 1442. Sunan Giri
memiliki beberapa nama panggilan, yaitu Raden Paku, Prabu Satmata,
Sultan Abdul Faqih, Raden 'Ainul Yaqin dan Joko Samudra.
Ia dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik.
2.1.7.1 Silsilah
Beberapa babad menceritakan pendapat yang berbeda
mengenai silsilah Sunan Giri. Sebagian babad berpendapat
bahwa ia adalah anak Maulana Ishaq, seorang mubaligh yang datang dari Asia
Tengah. Maulana Ishaq diceritakan menikah dengan Dewi Sekardadu, yaitu putri
dari Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir kekuasaan
Majapahit.
Pendapat lainnya yang menyatakan bahwa Sunan Giri juga
merupakan keturunan Rasulullah SAW; yaitu melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja'far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad an-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi
ats-Tsani, Ali Khali' Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi
al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah
Jalal (Jalaluddin Khan), Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar), Maulana
Ishaq, dan 'Ainul
Yaqin (Sunan Giri). Umumnya pendapat tersebut adalah berdasarkan riwayat pesantren-pesantren
Jawa Timur, dan catatan nasab Sa'adah BaAlawi Hadramaut.
Dalam Hikayat Banjar, Pangeran Giri/Sunan Giri merupakan
putera dari pasangan Putri Pasai (Jeumpa?) dengan putera Raja Bali. Putri Pasai
adalah puteri Sultan Pasai yang diambil isteri oleh Raja Majapahit yang bernama
Dipati Hangrok. Pasangan Putri Pasai dengan Raja Majapahit ini telah memperoleh
seorang putera. Kemudian Putri Pasai diberikan oleh Raja Majapahit kepada
putera dari Raja Bali. Jadi Pangeran Giri saudara seibu dengan putera Raja
Majapahit. Mangkubumi Majapahit masa itu adalaha Patih Maudara.
2.1.7.2 Kisah
Sunan Giri merupakan buah pernikahan
dari Maulana Ishaq, seorang mubaligh Islam dari Asia Tengah, dengan Dewi
Sekardadu, putri Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir
Majapahit. Namun kelahirannya dianggap telah membawa kutukan berupa wabah
penyakit di wilayah tersebut. Dipaksa untuk membuang anaknya, Dewi Sekardadu
menghanyutkannya ke laut.
Kemudian, bayi tersebut ditemukan
oleh sekelompok awak kapal (pelaut) dan dibawa ke Gresik. Di Gresik, dia
diadopsi oleh seorang saudagar perempuan pemilik kapal, Nyai Gede Pinatih. Karena
ditemukan di laut, dia menamakan bayi tersebut Joko Samudra.
Ketika sudah cukup dewasa, Joko Samudra dibawa ibunya ke
Surabaya untuk belajar agama kepada Sunan Ampel. Tak berapa lama setelah mengajarnya, Sunan Ampel mengetahui identitas sebenarnya
dari murid kesayangannya itu. Kemudian, Sunan Ampel mengirimnya dan Makdhum
Ibrahim (Sunan Bonang), untuk mendalami ajaran Islam di Pasai. Mereka diterima oleh Maulana Ishaq
yang tak lain adalah ayah Joko Samudra. Di sinilah, Joko Samudra, yang ternyata
bernama Raden Paku, mengetahui asal-muasal dan alasan mengapa dia dulu
dibuang.
2.1.7.3 Dakwah dan kesenian
Setelah tiga tahun berguru kepada
ayahnya, Raden Paku atau lebih dikenal dengan Raden 'Ainul Yaqin kembali
ke Jawa. Ia kemudian mendirikan sebuah pesantren giri di sebuah perbukitan di desa Sidomukti, Kebomas.
Dalam bahasa Jawa, giri berarti gunung. Sejak itulah, ia dikenal
masyarakat dengan sebutan Sunan Giri.
Pesantren Giri kemudian menjadi
terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa, bahkan
pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Pengaruh
Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil yang disebut Giri
Kedaton, yang menguasai Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi
sampai akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung.
Terdapat beberapa karya seni tradisional Jawa yang sering dianggap berhubungkan dengan Sunan
Giri, diantaranya adalah permainan-permainan anak seperti Jelungan, Lir-ilir
dan Cublak Suweng; serta beberapa gending (lagu instrumental
Jawa) seperti Asmaradana dan Pucung.
2.1.8 Sunan Gresik
Sunan Gresik atau Maulana
Malik Ibrahim (w. 1419 M/882 H) adalah nama salah seorang Walisongo, yang
dianggap yang pertama kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Ia dimakamkan
di desa Gapura, kota Gresik, Jawa Timur.
2.1.8.1 Asal keturunan
Tidak terdapat bukti sejarah yang
meyakinkan mengenai asal keturunan Maulana Malik Ibrahim, meskipun pada umumnya
disepakati bahwa ia bukanlah orang Jawa asli.
Sebutan Syekh Maghribi yang diberikan masyarakat kepadanya, kemungkinan
menisbatkan asal keturunannya dari Maghrib, atau Maroko di Afrika Utara.
Babad Tanah Jawi versi J.J. Meinsma menyebutnya dengan nama Makhdum
Ibrahim as-Samarqandy, yang mengikuti pengucapan lidah Jawa menjadi Syekh
Ibrahim Asmarakandi. Ia memperkirakan bahwa Maulana Malik Ibrahim lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14.
Dalam keterangannya pada buku The History of Java mengenai
asal mula dan perkembangan kota Gresik, Raffles menyatakan
bahwa menurut penuturan para penulis lokal, "Mulana Ibrahim,
seorang Pandita terkenal berasal dari Arabia, keturunan dari Jenal
Abidin, dan sepupu Raja Chermen (sebuah negara Sabrang),
telah menetap bersama para Mahomedans lainnya di Desa Leran di Jang'gala".
Namun demikian, kemungkinan pendapat
yang terkuat adalah berdasarkan pembacaan J.P. Moquette atas baris kelima
tulisan pada prasasti makamnya di desa Gapura Wetan, Gresik; yang
mengindikasikan bahwa ia berasal dari Kashan, suatu tempat di Iran sekarang.
Terdapat beberapa versi mengenai
silsilah Maulana Malik Ibrahim. Ia pada umumnya dianggap merupakan keturunan Rasulullah SAW; melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja'far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah,
Alwi ats-Tsani, Ali Khali' Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi
al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah
Jalal, Jamaluddin Akbar al-Husain (Maulana Akbar), dan Maulana Malik Ibrahim.
2.1.8.2 Penyebaran agama
Maulana Malik Ibrahim dianggap
termasuk salah seorang yang pertama-tama menyebarkan agama Islam di tanah Jawa,
dan merupakan wali senior diantara para Walisongo lainnya.[9] Beberapa versi babad menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang
ditujunya pertama kali ialah desa Sembalo, sekarang adalah daerah Leran, Kecamatan Manyar, yaitu 9 kilometer ke arah utara kota Gresik. Ia lalu
mulai menyiarkan agama Islam di tanah Jawa bagian timur, dengan mendirikan
mesjid pertama di desa Pasucinan, Manyar.
Pertama-tama yang dilakukannya ialah mendekati masyarakat
melalui pergaulan. Budi bahasa yang ramah-tamah senantiasa diperlihatkannya di
dalam pergaulan sehari-hari. Ia tidak menentang secara tajam agama dan
kepercayaan hidup dari penduduk asli, melainkan hanya memperlihatkan keindahan
dan kabaikan yang dibawa oleh agama Islam. Berkat keramah-tamahannya, banyak
masyarakat yang tertarik masuk ke dalam agama Islam.
Sebagaimana yang dilakukan para wali awal lainnya,
aktivitas pertama yang dilakukan Maulana Malik Ibrahim ialah berdagang. Ia berdagang di
tempat pelabuhan terbuka, yang sekarang dinamakan desa Roomo, Manyar.[11] Perdagangan membuatnya dapat berinteraksi dengan
masyarakat banyak, selain itu raja dan para bangsawan dapat pula turut serta
dalam kegiatan perdagangan tersebut sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal
atau pemodal.
Setelah cukup mapan di masyarakat,
Maulana Malik Ibrahim kemudian melakukan kunjungan ke ibukota Majapahit di
Trowulan. Raja Majapahit meskipun tidak masuk Islam tetapi menerimanya dengan
baik, bahkan memberikannya sebidang tanah di pinggiran kota Gresik. Wilayah
itulah yang sekarang dikenal dengan nama desa Gapura. Cerita rakyat tersebut
diduga mengandung unsur-unsur kebenaran; mengingat menurut Groeneveldt pada
saat Maulana Malik Ibrahim hidup, di ibukota Majapahit telah banyak orang asing
termasuk dari Asia Barat.
Demikianlah, dalam rangka
mempersiapkan kader untuk melanjutkan perjuangan menegakkan ajaran-ajaran
Islam, Maulana Malik Ibrahim membuka pesantren-pesantren yang merupakan tempat
mendidik pemuka agama Islam di masa selanjutnya. Hingga saat ini makamnya masih
diziarahi orang-orang yang menghargai usahanya menyebarkan agama Islam
berabad-abad yang silam. Setiap malam Jumat Legi, masyarakat setempat ramai
berkunjung untuk berziarah. Ritual ziarah tahunan atau haul juga
diadakan setiap tanggal 12 Rabi'ul Awwal, sesuai tanggal wafat pada prasasi
makamnya. Pada acara haul biasa dilakukan khataman Al-Quran, mauludan
(pembacaan riwayat Nabi Muhammad), dan dihidangkan makanan khas bubur harisah.
2.1.8.3 Legenda rakyat
Menurut legenda rakyat, dikatakan
bahwa Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik berasal dari Persia.
Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq disebutkan sebagai anak dari Maulana
Jumadil Kubro, atau Syekh Jumadil Qubro. Maulana
Ishaq disebutkan menjadi ulama terkenal di Samudera Pasai, sekaligus ayah dari
Raden Paku atau Sunan Giri. Syekh Jumadil Qubro dan kedua anaknya bersama-sama
datang ke pulau Jawa. Setelah itu mereka berpisah; Syekh Jumadil Qubro tetap di
pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, Vietnam Selatan; dan adiknya
Maulana Ishak mengislamkan Samudera Pasai.
Maulana Malik Ibrahim disebutkan
bermukim di Champa (dalam legenda disebut sebagai negeri Chermain atau Cermin) selama tiga
belas tahun. Ia menikahi putri raja yang memberinya dua putra; yaitu Raden
Rahmat atau Sunan Ampel dan Sayid Ali Murtadha atau Raden Santri. Setelah
cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, ia hijrah ke pulau Jawa dan
meninggalkan keluarganya. Setelah dewasa, kedua anaknya mengikuti jejaknya
menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.
Maulana Malik Ibrahim dalam cerita rakyat kadang-kadang
juga disebut dengan nama Kakek Bantal. Ia mengajarkan cara-cara baru
bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah, dan berhasil dalam misinya
mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis
ekonomi dan perang saudara.
Selain itu, ia juga sering mengobati masyarakat sekitar
tanpa biaya. Sebagai tabib, diceritakan bahwa ia pernah diundang untuk
mengobati istri raja yang berasal dari Champa. Besar kemungkinan permaisuri
tersebut masih kerabat istrinya.
2.1.8.4 Wafat
Setelah selesai membangun dan menata
pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 Maulana Malik Ibrahim wafat.
Makamnya kini terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.
Inskripsi dalam bahasa Arab yang tertulis pada
makamnya adalah sebagai berikut:
Ini adalah makam almarhum seorang
yang dapat diharapkan mendapat pengampunan Allah dan yang mengharapkan kepada
rahmat Tuhannya Yang Maha Luhur, guru para pangeran dan sebagai tongkat
sekalian para Sultan dan Wazir, siraman bagi kaum fakir dan miskin. Yang
berbahagia dan syahid penguasa dan urusan agama: Malik Ibrahim yang terkenal
dengan kebaikannya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya dan semoga
menempatkannya di surga. Ia wafat pada hari Senin 12 Rabi'ul Awwal 822 Hijriah.
Saat ini, jalan yang menuju ke makam tersebut diberi nama Jalan Malik
Ibrahim.
2.1.9 Sunan Ampel
Sunan Ampel pada masa
kecilnya bernama Raden Rahmat, dan diperkirakan lahir pada tahun 1401 di Champa. Ada dua
pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie
mengatakan bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja. Pendapat
lain, Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini
bernama Jeumpa. Menurut beberapa riwayat, orang tua Sunan Ampel
adalah Ibrahim Asmarakandi yang berasal dari Champa dan menjadi raja di
sana.
Ibrahim Asmarakandi disebut juga sebagai Maulana Malik
Ibrahim. Ia dan adiknya, Maulana Ishaq adalah anak dari Syekh Jumadil Qubro.
Ketiganya berasal dari Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah.
Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (= Hikayat
Banjar resensi I), nama asli Sunan Ampel adalah Raja Bungsu, anak Sultan Pasai. Beliau datang
ke Majapahit menyusul/menengok kakaknya yang diambil isteri oleh Raja
Mapajahit. Raja Majapahit saat itu bernama Dipati Hangrok dengan mangkubuminya
Patih Maudara. Dipati Hangrok telah memerintahkan menterinya Gagak Baning
melamar Putri Pasai dengan membawa sepuluh buah perahu ke Pasai. Sebagai
kerajaan Islam, mulanya Sultan Pasai keberatan jika Putrinya dijadikan isteri
Raja Majapahit, tetapi karena takut binasa kerajaannya akhirnya Putri tersebut
diberikan juga. Putri Pasai dengan Raja Majapahit memperoleh anak laki-laki
[yang diduga adalah Raden Patah]. Karena rasa sayangnya Putri Pasai melarang Raja Bungsu pulang ke Pasai.
Sebagai ipar Raja Majapahit, Raja Bungsu kemudian meminta tanah untuk menetap
di wilayah pesisir yang dinamakan Ampelgading. Putri Pasai kemudian diserahkan
sebagai isteri bagi putera raja Bali, yang wafat ketika Putri Pasai mengandung
tiga bulan. Karena dianggap akan membawa celaka bagi negeri tersebut, maka
ketika lahir bayi ini dihanyutkan ke laut, tetapi kemudian dapat dipungut dan
dipelihara oleh Nyai Suta-Pinatih, kelak disebut Pangeran Giri. Putri Pasai kembali ke Majapahit, kelak ketika terjadi huru-hara di
ibukota Majapahit, Putri Pasai pergi ke tempat adiknya Raja Bungsu di
Ampelgading. Penduduk desa-desa sekitar memohon untuk dapat masuk Islam kepada
Raja Bungsu, tetapi Raja Bungsu sendiri merasa perlu meminta ijin terlebih
dahulu kepada Raja Majapahit tentang proses islamisasi tersebut. Akhirnya Raja
Majapahit berkenan memperbolehkan penduduk untuk beralih kepada agama Islam.
Petinggi daerah Jipang menurut aturan dari Raja Majapahit secara rutin
menyerahkan hasil bumi kepada Raja Bungsu. Petinggi Jipang dan keluarga masuk
Islam. Raja Bungsu beristerikan puteri dari petinggi daerah Jipang tersebut,
kemudian memperoleh dua orang anak, yang tertua seorang perempuan diambil
sebagai isteri oleh Sunan Kudus, sedang yang laki-laki digelari sebagai Pangeran Bonang. Raja Bungsu sendiri disebut sebagai Pangeran Makhdum.
Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel disebut Sayyid
Rahmad merupakan keponakan dari Putri Champa (Jeumpa?) permaisuri Prabu Brawijaya.
2.1.9.1 Silsilah
- Sunan Ampel / Raden Rahmat /
Sayyid Ahmad Rahmatillah bin
- Maulana Malik Ibrahim
/ Ibrahim Asmoro bin
- Syaikh Jumadil Qubro
/ Jamaluddin Akbar Khan bin
- Ahmad Jalaludin Khan bin
- Abdullah Khan bin
- Abdul Malik Al-Muhajir
(Nasrabad,India) bin
- Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut)
bin
- Muhammad Sohib Mirbath
(Hadhramaut)
- Ali Kholi' Qosam bin
- Alawi Ats-Tsani bin
- Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
- Alawi Awwal bin
- Ubaidullah bin
- Ahmad
al-Muhajir bin
- Isa Ar-Rumi bin
- Muhammad An-Naqib bin
- Ali Uraidhi bin
- Ja'far
ash-Shadiq bin
- Muhammad
al-Baqir bin
- Ali Zainal
Abidin bin
- Imam Husain bin
- Ali bin Abi
Thalib dan Fatimah
az-Zahra bin Muhammad
Jadi, Sunan Ampel memiliki darah Uzbekistan dan Champa
dari sebelah ibu. Tetapi dari ayah leluhur mereka adalah keturunan langsung
dari Ahmad al-Muhajir, Hadhramaut. Bermakna mereka termasuk
keluarga besar Saadah BaAlawi.
2.1.9.2 Sejarah dakwah
Syekh Jumadil Qubro, dan kedua anaknya, Maulana Malik
Ibrahim dan Maulana Ishak bersama sama datang ke pulau Jawa. Setelah itu
mereka berpisah, Syekh Jumadil Qubro tetap di pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim
ke Champa, Vietnam Selatan, dan adiknya Maulana Ishak mengislamkan Samudra Pasai.
Di Kerajaan Champa, Maulana Malik
Ibrahim berhasil mengislamkan Raja Champa, yang akhirnya merubah Kerajaan
Champa menjadi Kerajaan Islam. Akhirnya dia dijodohkan dengan putri Champa, dan
lahirlah Raden Rahmat. Di kemudian hari Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau
Jawa tanpa diikuti keluarganya.
Sunan Ampel datang ke pulau Jawa pada tahun 1443, untuk
menemui bibinya, Dwarawati. Dwarawati adalah seorang putri Champa yang menikah
dengan raja Majapahit yang bernama Prabu Kertawijaya.
Sunan Ampel menikah dengan Nyai
Ageng Manila, putri seorang adipati di Tuban yang
bernama Arya Teja. Mereka dikaruniai 4 orang anak, yaitu: Putri Nyai
Ageng Maloka, Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat) dan Syarifah, yang merupakan isteri dari Sunan Kudus.Pada tahun 1479, Sunan
Ampel mendirikan Mesjid Agung Demak.
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada
tahun 1481 di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.
2.2 Penyebaran Islam Di Tanah Madura
Diantara
penyebar agama Islam selain Wali Songo masih banyak penyebar lainnya.
Diantaranya adalah Syekh Kholil dan Syekh Damanhuri. Dalam buku ini akan
diceritakan Syekh Kholil dan Syekh Damanhuri serta silsilah Batu Ampar Madura.
2.2.1 Syekh Kholil
Syekh
Kholil adalah penyebar ajaran agama Islam di tanah Madura, khususnya didaerah
Bangkalan. Beliau menyebarkan agama Islam dengan mendirkan Mesjid. Dan mengajar
agama kepada masyarakat. Makamnya banyak dikunjungi oleh para peziarah karena
perjuangan dan keunikan makam tersebut, pada patok makam antara b elakang dan
depan bukan batu nisan, melainkan dengan kubah yang kecil dan makam ini
terdapat didepan Mesjid Syekh Kholil sendiri, di sanapun terdapat fasilitas
lengkap untuk para peziarah.
2.2.2 Syekh Damanhuri
Seperti
halnya Syekh Kholil, beliau juga menyebarkan agama Islam di Madura, keadaan
wilayah makam Syekh Damanhuri sangat ramai karena dikunjungi banyak peziarah
tepatnya di Batu Ampar, adapun silsilah ahlinya Batu Ampar Madura adalah
sebagai berikut:
1. Syekh Abdul Mannan / Bujuk Kesambi
2. Syekh Basyaniyah / Bujuk Tumpeng
3. Syekh Su’adi /Syekh Abu Syamsudin / Bujuk Lazhong
4. Syekh Romli
5. Syekh Damanhuri
Syekh Damanhuri mempunyai sepuluh
putra-putri yaitu:
1. K.H Umar Fadlhi
2. Nyai Hasanah
3. K.H Romli
4. K,H Mahali
5. K.H Fauzi
6. K.H Mukhlis
7. Nyai Zubaidah
8. K.H Kholil
9. K.H Abd Qodir
10. K.H ‘Ainul Yaqin
Demikianlah kisah proses penyebar
agama Islam di Madura.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Wali Songo adalah kelompok para
mubaligh atau Alim Ulama Islam yang menyiarkan AgamaIslam di pilau jawa.
Maulana
Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim berasal dari Persia,ia dating ke pulau Jawa pada tahun
1399 M,dan wafat tahun 1419.
Beliau menetap di pulau Jawa selama
20 tahun dalam usaha dakwahnya,beliau menerapkan system pokok pesantren.
Sunan
Ampel
Sunan Ampel adalah gelar dari Raden Rahmat.Beliau berasal dari Campa Aceh dan
mulai tinggal di pulau Jawa pada tahun 1431 M,maksud kedatangannya ke pulau
Jawa adalah untuk berdakwah islam melanjutkan Maulana Malik Ibrahim,di tinggal
di Ampel Denta di Surabaya.
Sunan
Bonang
Sunan boning yang nama aslinya makhdum ibrahim.Beliau dilahirkan pada tahun
1465M,Ayahnya bernama sunan ampel dan ibunya bernama Nyi Ageng Manila.Beliau
berdakwah melalui kesenian dan kebudayaan.
Sunan
Drajat
Sunan drajat yang nama aslinya Raden Kosim.Beliau adalah putra Raden Rahmat
adik dari Sunan Bonang.Beliau berdakwah melalui pendekatan kesenian dan bidang
social ekonomi, dan menolong orang lain yang tidak mampu ,fakir miskin, anak
yatim piatu, serta janda-janda yang tidak mampu tetapi beliau hidupnya sangat
sederhana.
Sunan
Giri
Sunan giri yang nama aslinya Raden Ainun Yasin,adalah putra maulana
ishak.Diberi nama Giri karena pusat penyebaran islamnya di Giri dekat Gresik
Jatim.Beliau berdakwahnya dengan menggunakan cara pendidikan.
Beliau bergelar Sultan Abdul Paqih,dan berdakwah tidak hanya di Pulau Jawa saja
tetapi melainkan Kalimantan,Sulawesi,Nusa Tenggara dan Maluku.
Sunan
Kalijaga
Sunan kali jaga nama aslinya Raden Muhammad Sahid.Beliau adalah putra Adipati
Ario Teja yaitu raja kerajaan majapahit untuk wilayah Tuban dan sekitarnya.
Beliau tinggal di Demak dan dikenal sebagai politikus dan ahli dalam strategi
berdakwahnya melalui kesenian dan kebudayaan yaitu wayang kulit.
Sunan
kudus
Sunan kudus dikenal juga dengan nama Ja’far Shodiq yang nama aslinya adalah
raden Amir Haji.Pada masa mudanya ia pernah menjabat sebagai panglima perang
kerajaan Demak,dan dilingkungannya yang taat beribadah dan patuh terhadap
ajaran-ajaran syariat islam.Beliau berdakwah denga memusatkan perhatian pada
pelaksanaan hokum islam dikalangan penduduk.
Sunan
Muria
Sunan Muria adalah nama aslinya Raden Umar Sa’id.Beliau adalah putra Raden
Muhammad syahid.Beliau berdakwah dengan menitikberatkan pada bidang
tasawuf.Sunan muria tinggal di tempat sunyi yang jauh dari keramaian kota.
Sunan
Gunung Jati
Syarif Hidayatullahdemikian masa asli dari Sunan Gunung Jati.Beliau seorang
negarawan dan panglimaperang yang diseganioleh kawan maupun lawannya,dan beliau
pernah menjabat panglima islam Demak dan ia berhasil mengusir portugis dari
wilayah Batavia menjadi Jakarta.Ia mendirikan pusat pendidikan agama di
Cirebon.
3.2
Saran-saran
Adapun saran-saran yang ingin penulis sampaikan, diantaranya yaitu:
1. Agar keterangan yang lebih lengkap
dan rinci supaya pembaca lebih dalam menetahui silsilah tentang
kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia.
2. Kepada pembimbing khususnya,kami
mengharapkan bimbingan terutama untuk perbandingan antara teori dengan
kenyataan –kenyataan yang ada disekitar lokasi-lokasi karya wisata.
3. Kepada rekan-rekan seangkatan
tentang materi-materi yang diperoleh dari hasil pengumpulan data dari karya
wisata.
Demikian saran dari penulis mengenai saran-saran yang diungkapkan melalui
laporan karyawisata ini.
DAFTAR PUSTAKA
1. MB.
Rhimsyah. Tanpa tahun. Kisah Wali Songo
Penyebar Agama Islam Di Pulau Jawa. Surabaya Penerbit: Karya Gemilang
Utama.
2. Kaset VCD Kisah Wali Songo.
Hormat Penulis
Irtiyaah.zzhr
Tidak ada komentar:
Posting Komentar