1. Teppettu maoompennge’, teppolo massellomoe’
(Tak akan
putus yang kendur, tak akan patah yang lentur).
* Artinya: Peringatan agar bijaksana menghadapi suatu permasalahan. Toteransi
dan tenggang rasa perlu dipupuk supaya keinginan tercapai tanpa kekerasan.
2. Tarukie’
inapessu, padai tonangie’ lopi sebbok.
(Menuruti hawa nafsu ibarat menumpang perahu bocor).
* Artinya: Jika menuruti hawa nafsu, lenyaplah pengendalian diri. Oleh karena
itu, setiap usaha yang dilandasi hawa nafsu, yangberlebihan bisa berakhir
dengan kegagalan.
3. Rebba
sipatokkong, mali siparappe’, sirui me’nre tessurui nok,malilusipakainge,
maingeppi mupaja. (Rebah saling
menegakkan, hanyut saling mendamparkan, saling menarik ke atas dan tidak saling
menekan ke bawah, terlupa saling mengingatkan, nanti sadar atau tertolong
barulah berhenti).
* Artinya: Pesan agar orang selalu berpijak dengan teguh dan berdiri kokoh
dalam mengarungi kehidupan. Harus tolong-menolong ketika menghadapi rintangan,
dan saling mengingatkan untuk menuju ke jalanyang benar. Hal itu akan akan
terwujud masyarakat yang aman dan sejahtera.
4. Pala
uragae’, tebakke’ tongennge’ teccau mae’gae’, tessie’wasiyulae’.
(Berhasil tipu
daya, tak akan musnah kebenaran, tak akan kalah yang banyak, tak akan
berlawanan yang berpantangan).
* Artinya: Tipu daya, mungkin berhasil untuk sementara, tetapi kebenaran tidak
akan hilang. Kebenaran akan tetap hidup bersinar terus dalam kalbu manusia
karena akan ia datang dari sumber yang hakiki,yaitu Tuhan YME.
5. Taroi
telleng linoe’, tellaing pe’sonaku ri masagalae’.
(Biar dunia
tenggelam, tak akan berubah keyakinanku kepada Tuhan).
* Artinya: Apapun yang terjadi, keyakinan yang sudah dihayati kebenarannya
tidak boleh bergeser, karena segala kesulitan di dunia ini hanyalah tantangan
untuk menguji keimanan sescorang.
6. Aja'
mupoloi olona tauwe’.
(Jangan
memotong (mengambil) hak orang lain)
* Artinya: Memperjuangkan kehidupan adalah sesuatu yang wajar, tetapi jangan
menjadikan perjuangan itu pertarungan dengan kekerasan yaitu saling merampas
rezeki orang lain.
7. Nare’kko
mae’lokko made’ceng ri jama-jamammu, attanngakko ribate’lak-e’. Ajak muolai
bote’lak sigaru-garue’, tutunngi bate’lakmakessinnge’ tumpukna.
(Kalau mau
berhasil dalam usaha atau pekerjaanmu, amatilah jejak-jejak. Jangan mengikuti
jejak yang simpangsiur, tetapi ikutlah jejak yang baik urutannya).
* Artinya: Jejak yang simpang siur adalah jejak orang yang tidaktentu arah
tujuan. Jejak yang baik urutannya adalah jejak orang yangberhasil dalam
kehidupan. Sukses tak dapat diraih dengan semangat saja,melainkan harus
dibarengi dengan tujuan yang pasti dan jalan yang benar.
8. Tuppui
noterri, turungngi name’cawa.
(Mendaki ia
menangis, menurun ia tertawaun).
* Artinya: Setiap keadaan ada timbal baliknya. Ada dua hal yangsilih berganti
dalam kehidupan. Maka bersiaplah menghadapi dua kemungkinan itu. Jangan takabur
jika sedang merasakan kebahagiaan, karena nanti akan merasakan kesedihan juga.
Demikian pula sebaliknya, jangan terlampau bersedih jika dirundung malang,
karena dari situlah proses terjadinya kebahagiaan bakal dimulai.
9. Manyumui
mellekmu tabbelle barrek, iami napitakko manuk.
(Berhati-hatilah
dengan hasratmu, kelak tertumpah bagaikan beras laluengkau dicotok ayam).
* Artinya: Memperlihatkan hasrat yang berlebihan sama halnya menunjukkan
kepribadian yang lemah. Dengan menampakkan kelemahan berarti membuka peluang
bagi orang yang bermaksud jahat melaksanakan niatnya.
10. Ia
de’ce’nnge’ mabuang tassanrama.
(Kebaikan itu meski
pun jatuh tersangkut jua).
* Artinya: Kebaikan kadang tertutup oleh gelapnya keadaan. Akan tetapi su atu
saat akan tampak dalam nurani manusia yang mencintai kebaikan.
11.
Side’ce’ng-de’ce’nna ado de’k-e’ riolona, engka rimumnri. Sijaknaada engka
riolona de’k-e’ rimunri.
(Sebaik-baiknya
bicara ialah yang kurang komentar tetapi didukung oleh kenyataan. Seburuk-buruk
bicara adalah yang banyak komentar tetapi tidak didukung oleh kenyataan).
* Artinya: Sedikit bicara tetapi banyak kerja lebih baik daripada banyak bicara
tetapi tidak bekerja.
12. Unga
tabbakkae’ ri subue’ nare’kko nompokni essoe’ pajani baunna.
(Kembang mekar
di waktu subuh, di kala matahari terbit baunya pun hilang).
* Artinya: Jangan langsung percaya atau gembira mendengar berita atau janji
yang muluk-muluk, sebab berita tersebut mungkin saja tidak sesuai dengan
kenyaataan.
13. Cecreng
Ponna, kella-kella tenngana, sapuripalek cappakna.
(Serakah
awalnya, tamak pertengahannya, licin tandas akhirnya).
* Artinya: Sejauh keserakahan bertambah, sejauh itu pula menghanyutkan yang
baik dan akan berakhir dengan kehancuran.
14. Sadda
mappabati' ada, ada mappabati' gau, gau’ mappabati' tau.
(Bunyi
mewujudkan kata, kata menandakan perbuatan, perbuatanmenunjukkan manusia).
* Artinya: Kedudukan dan peranan orang Bugis lebih ditentukan oleh perbuatan
daripada nama yang bersangkutan. Dengan kata lain, katadan perbuatan seseorang
akan menentukan derajat nilai seseorang dalam masyarakat.
15. Iyya
nanigesara’ ada' 'biyasana buttaya tammattikamo balloka,tanaikatonganngamo
jukuka, annyalotongi ase’yo.
(Jika dirusak
adat kebiasaan negeri maka tuak berhenti menitik, ikan menghilang pula, dan
padi pun tidak menjadi).
* Artinya: Jika adat dilanggar berarti melanggar kehidupanmanusia. Akibatnya
bukan hanya dirasakan oleh yang bersangkutan, tetapijuga oleh seluruh anggota
masyarakat, binatang, tumbuh-tumbuhan, danalam semesta.
16. Pura
babbara' sompekku, pura tangkisi' golikku, ulebbirennitellennge’
nato'walie’.
(Layarku sudah
berkembang, kemudiku sudah terpasang, lebih baik tenggelam daripada kembali).
* Artinya: Semangat yang mengandung makna kehati-hatian dandidasarkan atas acca
(mendahulukan pertimbangan yang matang). Pelaut Bugis tak akan berlayar sebelum
tiang, jangkar, serta tali-temali diperiksa cermat dan teliti. Di samping itu
juga memperhatikan waktudan musim yang tepat untuk berlayar. Setelah segala
sesuatunya meyakinkan, barulah berlayar.
17. Alai
cedde'e risesena engkai mappedeceng, sampeanngi maegae risesenaengkai maega
makkasolang.
(Ambil yang
sedikit jika yang sedikit itu mendatangkan kebaikan, tolak yang banyak apabila
yang banyak itu mendatangkan kebinasaan).
* Artinya: Mengambil sesuatu dari tempatnya dan meletakkan sesuatu pada
tempatnya, termasuk perbuatan mappasitinaja (kepatutan).Kewajiban yang
dibaktikan memperoleh hak yang sepadan merupakan suatu perlakuan yang patut.
Banyak atau sedikit tidak dipersoalkan oleh kepatutan, kepantasan, dan
kelayakan.
18. Balanca
manemmui waramparammu, abbeneng anemmui, iakia aja'mupalaowi moodala'mu
enrennge’ bagelabamu.
(Boleh engkau
belanjakan harta bendamu, dan pakai untuk beristri, namun janganlah sampai kamu
menghabiskan modal dan labamu).
* Artinya: Peringatan pada para pedagang (pengusaha) agar dalam menggunakan
harta tidak berlebihan sehingga kehabisan modal dan membangkrutkan usahanya.
19. Siri'e’ mi
rionrowong ri-lino.
(Hanya untuk
siri'itu sajalah kita tinggal di dunia).
* Artinya: Dalam pepatah ini ditekankan bahwa siri’ sebagai identitas sosial
dan martabat pada orang Bugis, dan jika memiliki martabat itulah, hidup menjadi
berarti.
20. Ade'e’
temmakke-anak' temmakke’-e’po.
(Adat tak
mengenal anak, tak mengenal cucu).
* Artinya: Dalam menjalankan norma-norma adat tidak boleh pilih kasih (tak
pandang bulu). Misalnya, anak sendiri jelas-jelas melakukan pelanggaran, maka
harus dikenakan sanksi (hukumman) sesuai ketentuan adat yang berlaku.
21. Ka-antu
jekkongan kammai batu nibuanga naung rilikua; na-antu lambusuka kammai bulo
ammawanga ri je’ne’ka, nuassakangi poko’na ammumbaiappa’na, nuasakangi appa’na
ammumbai poko’na.
(kecurangan
itu sama dengan batu yang dibuang kedalam lubuk; sedangkan kejujuran laksana
bambu yang terapung di air, engkau tekan pangkalnya maka ujungnya timbul,
engkau tekan ujungnya maka pangkalnya timbul).
* Artinya: Kecurangan mudah disembunyikan, namun kejujuran akan senantiasa
tampak dan muncul ke permukaan.
22. Mattulu’
perejo te’pe’ttu siranrang, padapi mape’ettu iya.
(Terjalin
laksana tali pengikat batang bajak pada luku yang selalu bertautan, takakan
putus sebelum putus ketiganya)
* Artinya: Ungkapan ini melambangkan eratnya persahabatan. Masing-masing saling
mempererat dan memperkuat, sehingga tidak putus jalinannya. Apabila putus satu,
maka semua putus.
23. Naia
riyasennge’ pannawanawa, mapaccingi riatinna, sappairinawanawanna,
nalolongenngi sininna adae’ enrenge’ gau’e’ napolei’ ja’enrenge’ napolei’
de’ceng.
(Cendekiawan
(pannawanawa) ialah orang yang ikhlas, yang pikirannya selalu mencari-cari
samapai dia menemukan pemecahan persoalan yang dihadapi demikian pula perbuatan
yang menjadi sumber bencana dan sumber kebajikan).
* Artinya: Ungkapan ini menggambarkan posisi orang pandai di masyarakatnya.
24. Aja'
mumatebek ada, apak iyatu adae’ mae’ga bettawanna. Muatutuiwililamu, apak iya
lilae’ pawere’-were’.
(Jangan banyak
bicara, sebab bicara itu banyak artinya. Jaga lidahmu, sebab lidah itu sering
mengiris).
* Artinya: Peringatan agar setiap orang selalu menjaga kata-kata yang diucapkan
jangan sampai menyakiti hati orang lain.
25. Aju
malurue’mi riala parewa bola.
(Hanyalah kayu
yang lurus dijadikan ramuan rumah).
* Artinya: Rumah sebagai perlambang dan pemimpin yang melindungi rakyat. Hanya
orang yang memiliki sitat jujur yang layak dijadikan pemimpin, agar yang
bersangkutan dapat menjalankan fungsi perannya dengan baik.
26. Duwa
laleng tempekding riola, iyanaritu lalenna passarie’ enrennge’lalenna.
Paggollae’.
(Dua cara tak
dapat ditiru, ialah cara penyadap penau dan cara pembuat gula merah).
* Artinya: Jalan yang ditempuh penyadap enau tidak tentu, kadang dari pohon ke
pohon lain melalui pelepah atau semak belukar, sehingga dikiaskan menghalalkan
segala cara untuk mencapai tujuan. Pembuat gula merah umumnya tak menghiraukan
kebersihan, lantaran itu hanya tak diketahui orang.
27. Lapa
nakulle’ taue’ mabbaina narekko naulle’ni magguli-lingiwidapurenge’ we’kka
pitu.
(Apabila
seorang ingin beristeri, harus sanggup mengelilingi dapur tujuh kali).
* Artinya: Di sini dapur merupakan perlambang dari masalah pokok data,
kehidupan rumah tangga. Sedangkan tujuh kali merupakan padanan terhadap jumlah
hari yang juga tujuh (Senin sampai Minggu). Maksudnya, sebelum berumah tangga
harus memiliki kesanggupan memikul tanggung jawab menghidupi keluarga setiap
hari.
28. De’k
nalabu essoe’ ri tenngana bitarae’.
(Tak akan
tenggelam matahari di tengah langit).
* Artinya: Manusia tidak akan mati sebelum takdirnya sampai. Oleh karena itu,
keraguan harus disingkirkan dalam menghadapi segala tantangan hidup.
29. Jagaiwi
balimmu siseng mualitutui ranemmu wekka seppulo nasabarangemmu ritu biasa
mancaji bali.
(Jagalah
lawanmu sekali dan jagalah sekutumu sepuluh kali lipat sebab sekutu itu bisa
menjadi lawan).
* Artinya: Terhadap lawan sikap kita sudah jelas, namun yang harus lebih
diwaspadai jangan sampai ada kawan berkhianat. Sebab, lawan menjadi bertambah
dan membuat posisi rentan karena yang bersangkutan mengetahui rahasia
(kelemahan) kita.
30. Lebbik-i
cau-caurennge’ napellorennge’.
(Lebih baik
sering kalah daripada pengecut).
* Artinya: Orang yang sering kalah, masih memiliki semangat juang meskipun
lemah dalam menghadapi tantangan. Sedangkan seorang pengecut, sama sekali tak
memiliki keberanian ataupun semangat untuk berusaha menghadapi tantangan.
31. Malai
bukurupa ricau’e, mappalimbang ri maje’ ripanganroe’.
(Memalukan
kalau dikalahkan, mematikan kalau ditaklukkan).
* Artinya: Dikalahkan karena keadaan memaksa memang memalukan.Sedangkan takluk
sama halnya menyerahkan seluruh harga diri, dan orangyang tidak memiliki harga diri
sama halnya mati.
32. Naiya tau
malempuk-e’ manguruk manak-i tau sugi-e.
(Orang jujur
sewarisan dengan rang kaya).
* Artinya: Orang jujur tidak sutit memperoleh kepercayaan dari orang kaya
karena kejujurannya.
33.
Masse’sapanga, temmase’sa api, masse’sa api temmas’esa botoreng.
(Bersisa
pencuri tak bersisa api, bersisa api tak barsisa penjudi).
* Artinya: Sepintar-pintarnya pencuri, dia tidak mampu mengambil semua barang
(misalnya mengambil rumah atau tanah). Akan tetapi sebesar-besarnya kebakaran
hanya mampu menghancurkan barang-barang (tanah masih utuh). Akan tetapi seorang
penjudi dapat menghabiskan seluruh barang miliknya (termasuk tanah dalam waktu
singkat).
34. Mau mae’ga
pabbise’na nabonngo ponglopinna te’a wa' nalureng.
(Biar banyak
pendayungnya, tetapi bodoh juru mudinya).
* Artinya: Kebahagiaan rumah tangga ditentukan oleh banyak hat, tetapi yang
paling menentukan adalah kecakapan dan rasa tanggung jawab kepala rumah tangga
itu sendiri.
35. Naiya
accae ripptoppoki je’kko, aggati aliri, nare’kko te’yaimaredduk, mapoloi.
(Kepandaian
yang disertai kecurangan ibarat tiangrumah, lalau tidak tercerabut ia akan
patah).
* Artinya: Di Bugis, tiang rumah dihubungkan satu dengan yang lain menggunakan
pasak. Jika pasak itu bengkok sulit masuk ke dalam lubang tiang, dan patah
kalau dipaksakan. Kiasan terhadap orang pandai tetapi tidak jujur. Ilmunya tak
akan mendatangkan kebaikan (berkah), bahkan dapat membawa bencana (malapetaka).
36. Narekko
mae’lokko tikkeng se’uwa olokolok sappak-i bate’lana.Narekko sappakko dalle’k
sappak-i mae’gana bate’la tau.
(Kalau ingin
menangkap seekor binatang, carilah jejaknya. Kalau mau rezeki, carilah di mana
banyak jejak manusia).
* Artinya: Pada hakikatnya, manusialah yang menjadi pengantar rezeki, sehingga
di mana banyak manusia akan ditemui banyak rezeki.
Semoga
bermanfaat,, :D
Irityaah.zzhr
Tidak ada komentar:
Posting Komentar